Jumat, 20 April 2012

Cerita Angin

Malam yang sebenarnya akan begitu menyenangkan. Detik-detik menjelang pergantian usia serasa ingin ku percepat. Ada keindahan tersendiri ketika bilangan umur ku bertambah. Ya ! malaikat kecil ayah dan bunda dulu sudah mulai melebarkan sayapnya. Dan barangkali sebentar lagi ia akan bisa terbang dengan sayapnya sendiri. Aku yakin bunda akan selalu menganggap aku malaikat kecilnya. Bunda akan selalu menengadahkan tangannya untuk ku berpegang. Bunda selalu takut jika aku kenapa-napa. Tapi ayah, dari segi kepribadian memang bertentangan dengan bunda. Ayah selalu mempercayakan aku untuk melakukan semua hal yang bisa dipertanggungjawabkan. Ayah tak pernah takut jika aku terjatuh. Karena ayah yakin aku bisa melindungi diri ku sendiri. Dan tidak jarang juga hal ini menimbulkan perdebatan antara keduanya. Bunda selalu memanjakan ku dengan kelembutannya, sedang ayah selalu berusaha membentuk kepribadianku dengan ketegasannya. Aku baru menyadari ternyata Tuhan telah memberikan orangtua yang sempurna untukku.
 
Tapi aku masih ingat, ada satu hal yang ditakutkan ayah. Ayah tidak mau membiarkan anak gadisnya bergaul dengan sembarang lelaki. Ayah selalu melindungi ku dari hal semacam itu. Laki-laki yang boleh "berteman" dengan ku hanyalah ayah. Dan ibu, untuk hal ini juga menurut kepada ayah. Karena ayah tidak pernah  mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang. Awalnya aku bisa terima. Karena aku juga belum menginginkannya waktu itu.
Hingga akhirnya, ada suatu hal yang mengetuk ruang dadaku. Ia datang seperti angin. Tanpa ku duga. Ia isi ruang kosong yang ada di dalam sini. Entah siapa dia. Aku tidak mengenalnya. Ketika itu, dengan berani ku putuskan mempersilahkan dia masuk. Dan bahagia sekali aku memiliki rasa itu. Tahun terakhirku di SMA kututup dengan cerita indah bersamanya. Ibu pun mengetahui hal ini. Aku takut sekali ketika itu. Aku takut mengecewakan ayah. Dan aku juga takut mengecewakan dia. Tapi Ibu selalu hadir dengan hati bidadarinya. Barangkali sebagai seorang wanita ia juga mengerti akan suatu kebutuhan hati, yang disebut orang-orang dengan "cinta". Aku tidak yakin betul, barangkali Ibu telah meyakinkan ayah agar bisa menerima dia untuk mengisi hati gadisnya. Dan benar saja. Ayah mulai bisa menerimanya, meski masih secara perlahan-lahan. Aku berterimakasih dalam hati untuk kepercayaan yang diberi.
Banyak sekali cerita-cerita yang ku ukir bersama dia. Yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Cerita bersama ilalang, 100 lilin kecil, bersama hujan, dan bersama burung-burung kertas. Hingga akhirnya masa SMA pun berakhir, dan aku memilih melanjutkan ke bangku perkuliahan. Ia juga ingin. Tapi ia pesimis. Aku bantu memberi api untuk membakar semangat di dadanya. Entah kenapa aku sangat ingin ia membahagiakan keluarganya. Kami sama-sama memilih jalur mahasiswa undangan. Dan sangat menyenangkan ketika aku tahu dia lulus di salah satu PTN bergengsi di Ibukota ini, meski aku sendiri  tidak lulus. Aku masih punya jalan lain. Aku berkutat belajar untuk menghadapi ujian SNMPTN. Dan detik-detik menjelang SNMPTN ternyata lebih menakutkan dibanding ketika menghadapi UN. Akut takut ayah dan Ibu kecewa. Dan aku takut tidak bisa berada satu kota dengan dia. Hinggal  suatu hari, saat-saat pengumunan hasil ujianpun keluar. Semua kemungkinan terburuk sudah ku persiapkan. Dengan penuh kesabaran, ayah mengurut ribuan nama peserta yang lulus yang dimuat di sebuah media cetak kala itu. Lama sekali ayah berkutat dalam ketegangan. Aku pasrahkan saja. "Ada nama uni di koran ini !", seru adikku lugu. ....
Allah baik sekali kepada ku dan keluargaku. 
                                                                             * * *

Tidak terasa 3 tahun lebih aku berjuang di negeri orang mengemban amanah yang dititipkan ayah. Kegamangan ku dulu berada jauh dari keluarga terkesampingkan dengan keberadaan sesosok lelaki yang telah dianggap ibu seperti anaknya sendiri. Aku merasa tidak sendiri di kota ini. Ia membuatkan sedikit merasa terlindungi. Begitu cepatnya waktu berlalu. Hingga akhirnya sampai jua pada saat-saat yang tidak pernah aku inginkan sebelumnya. Begitu menyakitkan ketika di malam pergantian usia, aku menerima  sebuah kado terburuk. Aku tidak percaya dia bisa mendua.
Bersambung .......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar