Jumat, 27 Januari 2012

resensi buku


“ Bermimpilah, Walau Hanya di Ujung Pagi “

Judul               : Orang Miskin dilarang sekolah
Penulis             : Wiwid prasetyo
Penerbit           : DIVA Press, jogjakarta
Cetakan           : April 2011
Tebal               : 450 halaman
Harga              : Rp. 48.000



 Jangan pernah takut untuk bermimpi, sebab orang yang tak punya mimpi berarti tak punya cita-cita. Setiap orang berhak untuk bertekad menjadi sukses. Sebab kesuksesan  tidak hanya dapat dicapai oleh mereka yang ber-uang saja, tapi juga bisa dicapai oleh mereka yang kehidupan ekonominya lemah.
Siapa yang ingin menjadi miskin. Apalagi meminta untuk terlahir sebagai orang miskin. Novel ini menceritakan suatu kisah yang  penuh keharuan. Lewat tokoh utama, Faisal, penulis menceritakan bagaimana keprihatinannya terhadap anak-anak yang tidak bisa bersekolah karena himpitan ekonomi. Mereka adalah : Yudi, Pepeng, dan Pambudi yang belum bisa merasakan manisnya duduk di bangku sekolah, bermain di halaman sekolah serta mendapatkan ilmu pengetahuan di sekolah. Mereka hanya bisa memagut dagu ketika melihat anak-anak pergi bersekolah. Sedangkan kesehariannya mereka isi dengan bekerja menolong orangtua di lokasi peternakan.
Faisal merasa tidak sepaham akan adanya argumen yang mengatakan bahwa  orang-orang miskin tidak berhak sekolah. Ia akan membuktikan bahwa untuk meraih pendidikan di bangku sekolah tidak hanya memprioritaskan materi (biaya) saja, namun sesungguhnya yang terpenting ialah niat, kerja keras dan bersungguh-sungguh dalam mengejar cita-cita. Oleh karena itu, Faisal berusaha agar teman-temanya pun ikut masuk sekolah, seperti dirinya.
Banyak halangan yang ditemui Faisal untuk melaksanakan tugas sucinya ini. Ia memang belum lancar membaca. Namun ketika ia berusaha memberikan ilmu kepada Yudi, Pepeng, dan Pambudi, ketiga bocah tersebut malah menertawakan cara membacanya yang masih tersendat-sendat. Tentu saja hal ini akan semakin menambah keraguan mereka untuk bersekolah. “Percuma saja kamu bersekolah, hanya menghabiskan uang, buktinya membaca saja belum bisa.” Olok mereka kepada Faisal. Meskipun demikian, Faisal tidak patah semangat. Ia yakin bahwa kesuksesan dapat dicapai dengan kerja keras. Salah satu pernyataan gurunya selalu menjadi semangat Faisal dikala dia diserang keputusasaan dalam pencapaian cita-citanya. “ Kalau kau bersungguh-sungguh untuk meraih sesuatu, maka kau akan memperoleh apa yang kau cita-citakan.”
Memang, kehidupan serba materi, semua berbau uang. Banyak nilai yang tergeruskan hanya menjadi petaka karena uang. Apapun dan dimanapun pasti ujung-ujungnya uang. Apalagi dalam mencapai suatu kesuksekan. Ilmu sangatlah mahal bagi bocah-bocah dalam cerita ini. Namun Faisal yakin, habis gelap terbitlah terang.

Resensiator: Yani Marliani
Mahasiswa Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan FBS TM 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar