“ Merangkul Cinta yang Hakiki “
Judul : Kuhapus Namamu dengan Nama-Nya
Penulis : Taufiqurrahman Al-Azizy
Penerbit : Abdikan Press
Cetakan pertama : Januari 2010
Tebal : 304 halaman
Novel ini mengisahkan tentang bagaimana seseorang dapat mengalami perubahan kepribadian dan keyakinan hanya dikarenakan wanita yang kemudian mendatangkan cinta dan akhirnya menghadirkan sengsara. Disini penulis membuktikan bahwa seseorang yang keyakinannya teguh dalam beragama sekalipun masih bisa jatuh ke jurang yang tak tanggung-tanggung dapat menghancurkan hidupnya. Apalagi manusia biasa yang keimanannya masih separo-separo, tentu akan mengalami godaan yang lebih kuat dan lebih sulit lagi untuk ditaklukkan.
Cerita berawal ketika tokoh Naufal yang agamis dan memegang teguh keimanannya merasakan keganjilan yang sebenarnya memang patut diraskan oleh semua manusia, yakni jatuh cinta. Wanita itu bernama Naura, bunga kampus yang menjeritkan lagu pilu di hati banyak mahasiswa. Butuh perjuangan yang berat bagi Naufal untuk bisa mendekati wanita itu, salah satunya adalah menghadapi Bowo yang juga merupakan lelaki yang digilai para mahasiswi. Namun hal itu bukanlah halangan bagi Naufal. Allah SWT tidak mengharamkan cinta, Dia yang menanamkan perasaan cinta di dalam dada makhluk-Nya. “ Haruskah aku kalah dengannya ?!! Tidak “. Semangat Naufal masih berapi-api untuk berta’aruf dengan Naura.
Ternyata Allah SWT meridhoi niat baik Naufal untuk mengenal Naura lebih dekat, dengan tetap tidak terlepas dari ajaran-ajaran agama yang dipegangnya. Setelah berjuang berapa lama, akhirnya Naufal memiliki kesempatan untuk menyampaikan perasaannya kepada Naura. Dan ternyata perasaan Naufal pun berbalas. Setelah menjalani ta’aruf selama beberapa bulan, Naufalpun menunaikan niat sucinya untuk menikahi Naura. Bayang-bayang keluarga Sakinah, mawaddah, warahmah telah tampak dari keluarga kecil mereka. Apalagi ketika diketahui Naura sedang mengandung buah cinta Naufal, kebahagiaan terasa begitu lengkap.
Namun seperti kata pepatah, semakin tinggi suatu pohon, semakin kencang pula angin yang menerpanya. Kira-kira seperti inilah yang terjadi pada rumah tangga Naufal. Semua berawal ketika Nufal harus dipindahtugaskan ke luar kota dalam kondisi Naura yang sedang hamil. Kekokohan rumah tangga mereka mulai diuji. Naufal yang dahulunya sangat taat beragama, mulai goyah sandi-sandi keimanannya. Lagi-lagi semua gara-gara wanita. Disaat naura sangat membutuhkan kehadiran Naufal mendampinginya dalam proses persalinan, ia malah tidak bisa. Puncak petaka mulai menyeruak disini. Keretakan rumah tangga Naufal dan Naura semakin menjadi-jadi ketika Naura tertangkap membawa laki-laki lain yang bukan muhrimnya masuk kedalam rumah.
Perputaran hidup laksana roda sudah dialami Naufal. Ia pernah merasakan berada di puncak tertinggi kebahagiaannya sebagai penganut agama yang taat. Dan ia juga pernah merasakan dirinya jatuh berderai-derai karena silau oleh perihal duniawi. Namun, Allah kembali merangkulnya disaat ia telah menjauh dari Tuhan yang selama ini diagungkannya. Allah Maha Penyayang. Meski terlambat menyadarinya, Naufal masih diberi kesempatan untuk merangkul Cinta yang sesunggunhnya, Cinta Hakiki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar