Jumat, 27 Januari 2012

opini


Mahasiswa, Dulu dan Sekarang
           
            Mahasiswa, dari namanya saja kita sudah dapat mengartikan bahwa “Maha” adalah sesuatu yang agung. Jadi mahasiswa merupakan siswa yang memiliki “keagungan” yang lebih dari para siswa. Mahasiswa yang sesungguhnya diharapkan mempunyai beberapa kompetisi dasar, diantaranya : kemampuan berbahasa lisan dan tulisan, kemampuan bekerja mandiri dan kelompok, kemampuan logika, analisis, serta pemahaman dalam bidangnya. Dan kompetisi inilah yang akan membuat mereka berbeda dengan para siswa.
            Dahulu, mahasiswa adalah golongan terhormat dan menjadi tumpuan bangsa. Banyak perubahan-perubahan yang berada dibawah tangan mahasiswa, seperti lengsernya Presiden Soeharto dari jabatannya pada tahun 1998, serta dalam tragedi Trisakti yang sampai sekarang masih diperingati.
            Namun kenyataannya sekarang, mahasiswa tidak ubahnya seperti siswa-siswa atau bahkan lebih bobrok lagi. “Mahasiswa” hanya tinggal nama. Etika, moral dan kemampuan logika sepertinya telah kandas dari diri mereka. Bisa kita perhatikan betapa banyak orang-orang yang menyebut dirinya sebagai mahasiswa bertindak  yang sama sekali tidak mencerminkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berpendidikan. Dari cara berbicara dan bertindak tidak bisa dibedakan lagi antara mahasiswa, siswa dan mereka yang tidak menyelesaikan pendidikan. Semua hampir sama. Bagaimana bangsa ini mau maju jika calon-calon penerusnya saja sudah memiliki mental yang bobrok.
            Untuk memperbaiki itu semua, harus berawal dari perbaikan terhadap masing-masing pribadi. Setiap “mahasiswa” harus memiliki mental mahasiswa yang sebenarnya. Pergunakan logika dan analisa dalam bertindak. Timbulkan kembali image yang baik tentang mahasiswa yang ditunjukkan dalam berucap dan bertingkah laku. Dan semoga bangsa yang besar ini masih dapat kita pertahankan “kebesarannya”.
(Elvia Mawarni, mahasiswa Kimia UNP).
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar