Slide Title 1

Aenean quis facilisis massa. Cras justo odio, scelerisque nec dignissim quis, cursus a odio. Duis ut dui vel purus aliquet tristique.

Slide Title 2

Morbi quis tellus eu turpis lacinia pharetra non eget lectus. Vestibulum ante ipsum primis in faucibus orci luctus et ultrices posuere cubilia Curae; Donec.

Slide Title 3

In ornare lacus sit amet est aliquet ac tincidunt tellus semper. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Jumat, 20 April 2012

Untuk kamu tau, aku tidak pernah benar-benar bisa membenci dan mengeluarkanmu dari hatiku. Aku begitu nyaman dengan kamu. Aku senang ada kamu yang mengisi hari-hariku. Aku takut tanpa kamu.

Cerita Angin

Aku putuskan untuk meninggalkannya malam itu juga. Sakit sekali rasanya. 3,5 tahun bukanlah waktu yang singkat. Dia benar-benar sudah merasuk ke dalam aliran darahku. Singgah ke otak. Singgah ke hati. Singgah ke semuanya. Tapi ia telah menghianatiku. Tidak ada lagi kesempatan untuk seorang penghianat. Itu komitmen ku dulu. Aku lampiaskan semua kemarahan dan kekecewaanku padanya. Dia menyesali. Katanya. Tapi aku memilih tidak peduli malam itu.

Satu hari berlalu tanpa dia. Aku tidak terbiasa dengan keadaan ini. Aku berusaha untuk melupakan dan menyibukkan diri dengan hal-hal lain. Hasilnya, GAGAL.
Ya Tuhan ! Ternyata aku benar-benar tidak punya hati untuk membencinya. Aku tidak mampu membawanya keluar dari ruang ini.

Cerita Angin

Malam yang sebenarnya akan begitu menyenangkan. Detik-detik menjelang pergantian usia serasa ingin ku percepat. Ada keindahan tersendiri ketika bilangan umur ku bertambah. Ya ! malaikat kecil ayah dan bunda dulu sudah mulai melebarkan sayapnya. Dan barangkali sebentar lagi ia akan bisa terbang dengan sayapnya sendiri. Aku yakin bunda akan selalu menganggap aku malaikat kecilnya. Bunda akan selalu menengadahkan tangannya untuk ku berpegang. Bunda selalu takut jika aku kenapa-napa. Tapi ayah, dari segi kepribadian memang bertentangan dengan bunda. Ayah selalu mempercayakan aku untuk melakukan semua hal yang bisa dipertanggungjawabkan. Ayah tak pernah takut jika aku terjatuh. Karena ayah yakin aku bisa melindungi diri ku sendiri. Dan tidak jarang juga hal ini menimbulkan perdebatan antara keduanya. Bunda selalu memanjakan ku dengan kelembutannya, sedang ayah selalu berusaha membentuk kepribadianku dengan ketegasannya. Aku baru menyadari ternyata Tuhan telah memberikan orangtua yang sempurna untukku.
 
Tapi aku masih ingat, ada satu hal yang ditakutkan ayah. Ayah tidak mau membiarkan anak gadisnya bergaul dengan sembarang lelaki. Ayah selalu melindungi ku dari hal semacam itu. Laki-laki yang boleh "berteman" dengan ku hanyalah ayah. Dan ibu, untuk hal ini juga menurut kepada ayah. Karena ayah tidak pernah  mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang. Awalnya aku bisa terima. Karena aku juga belum menginginkannya waktu itu.
Hingga akhirnya, ada suatu hal yang mengetuk ruang dadaku. Ia datang seperti angin. Tanpa ku duga. Ia isi ruang kosong yang ada di dalam sini. Entah siapa dia. Aku tidak mengenalnya. Ketika itu, dengan berani ku putuskan mempersilahkan dia masuk. Dan bahagia sekali aku memiliki rasa itu. Tahun terakhirku di SMA kututup dengan cerita indah bersamanya. Ibu pun mengetahui hal ini. Aku takut sekali ketika itu. Aku takut mengecewakan ayah. Dan aku juga takut mengecewakan dia. Tapi Ibu selalu hadir dengan hati bidadarinya. Barangkali sebagai seorang wanita ia juga mengerti akan suatu kebutuhan hati, yang disebut orang-orang dengan "cinta". Aku tidak yakin betul, barangkali Ibu telah meyakinkan ayah agar bisa menerima dia untuk mengisi hati gadisnya. Dan benar saja. Ayah mulai bisa menerimanya, meski masih secara perlahan-lahan. Aku berterimakasih dalam hati untuk kepercayaan yang diberi.
Banyak sekali cerita-cerita yang ku ukir bersama dia. Yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Cerita bersama ilalang, 100 lilin kecil, bersama hujan, dan bersama burung-burung kertas. Hingga akhirnya masa SMA pun berakhir, dan aku memilih melanjutkan ke bangku perkuliahan. Ia juga ingin. Tapi ia pesimis. Aku bantu memberi api untuk membakar semangat di dadanya. Entah kenapa aku sangat ingin ia membahagiakan keluarganya. Kami sama-sama memilih jalur mahasiswa undangan. Dan sangat menyenangkan ketika aku tahu dia lulus di salah satu PTN bergengsi di Ibukota ini, meski aku sendiri  tidak lulus. Aku masih punya jalan lain. Aku berkutat belajar untuk menghadapi ujian SNMPTN. Dan detik-detik menjelang SNMPTN ternyata lebih menakutkan dibanding ketika menghadapi UN. Akut takut ayah dan Ibu kecewa. Dan aku takut tidak bisa berada satu kota dengan dia. Hinggal  suatu hari, saat-saat pengumunan hasil ujianpun keluar. Semua kemungkinan terburuk sudah ku persiapkan. Dengan penuh kesabaran, ayah mengurut ribuan nama peserta yang lulus yang dimuat di sebuah media cetak kala itu. Lama sekali ayah berkutat dalam ketegangan. Aku pasrahkan saja. "Ada nama uni di koran ini !", seru adikku lugu. ....
Allah baik sekali kepada ku dan keluargaku. 
                                                                             * * *

Tidak terasa 3 tahun lebih aku berjuang di negeri orang mengemban amanah yang dititipkan ayah. Kegamangan ku dulu berada jauh dari keluarga terkesampingkan dengan keberadaan sesosok lelaki yang telah dianggap ibu seperti anaknya sendiri. Aku merasa tidak sendiri di kota ini. Ia membuatkan sedikit merasa terlindungi. Begitu cepatnya waktu berlalu. Hingga akhirnya sampai jua pada saat-saat yang tidak pernah aku inginkan sebelumnya. Begitu menyakitkan ketika di malam pergantian usia, aku menerima  sebuah kado terburuk. Aku tidak percaya dia bisa mendua.
Bersambung .......

Jumat, 27 Januari 2012

resensi buku



Resensi
Judul : Anak Rembulan: Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari  
Penulis Djokolelono 
Penerbit Mizan 
Cetakan : Oktober  2011
Tebal : 350 halaman




“ Bertualang di Dunia Imajinasi Sang Djokolelono “
Djokolelono adalah penulis novel produktif di era 70-80an. Novel debutannya yang berjudul “Jatuh ke Matahari” merupakan novel fiksi ilmiah paling awal yang ditulis oleh penulis Indonesia dimana materi kisahnya dianggap jauh melebihi jaman ketika novel itu dibuat. Dan sekarang ia hadir kembali dengan kehebatan imajinasinya yang dituangkan dalam novel  “ Anak Rembulan “.
Dikidahkan seorang anak bernama Nono menghabiskan masa liburan sekolah di kampung halamannya. Berharap dapat melakukan hal-hal  yang menyenangkan namun Nono malah terjebak di sebuah tempat yang asing dan belum pernah ia temui sebelumnya. Kehidupan Nono berubah setelah  ia terjebak di dalam batang pohon kenari tua. Bagaikan sebuah lorong waktu, pohon tua itu telah membawa Nono tiba masa lampau, tepatnya di zaman Belanda. Banyak peristiwa dan kejadian aneh yang di alami Nono. Hal pertama yang di temui Nono adalah terjebak dan dikepung oleh pasukan Belanda dan kemudian bertemu dengan seorang gadis cantik yang bisa berubah menjadi seekor burung kenari.
 Setelah berhasil lolos dari kepungan pasukan Belanda, Nono malah terjebak di sebuah desa dimana ia tiba-tiba saja menjadi pelayan di warung makan  milik Mbok Rimbi, seorang wanita penganut aliran Dewi Kali. Di warung tersebut Nono mendapatkan perlakuan kasar oleh Mbok Rimbi, ia dipaksa kerja rodi melayanai para pembeli yang datang, jika tidak tamparan keras harus diterima Nono. Banyak kejanggalan yang Nono temui disana, mulai dari kebiasaan aneh Mbok Rimbi yang menurut warga sekitar selalu berganti pelayan setiap bulan purnama karena pelayan sebelumnya hilang secara misterius, kedekatan Mbok Rimbi dengan pelanggannya yang ternyata merupakan  sekelompok  pencuri bernama Semut Hitam, serta sebutan sebagai “Anak Rembulan” yang diberikan oleh Semut Hitam kepada Nono. Meskipun pada akhirnya Nono berhasil melarikan diri dari jeratan Mbok Rimbi, namun nono belum juga berhasil pulang ke”dunia”nya. Petualangan lainnya kemudian dimulai, Nono berada di sebuah kerajaan aneh yang dipimpin oleh seorang ratu bernama Sri Ratu Merah yang kejam dan ternyata masih anak-anak dan sebaya dengan Nono. Disana ia terperangkap dalam sebuah peristiwa peperangan yang tidak hanya perang fisik saja namun juga perang melawan kekuatan-kekuatan mistis untuk memperebutkan kerajaan Sri Ratu Merah.
Bagi penyuka cerita petualangan dan fantasi lokal, karya terbaru dari Djokolelono ini wajib menjadi santapan bacaan. Dengan kekuatan imajinasinya yang tinggi, Djokolelono berhasil menceritakan setiap detil suasana dari “dunia khayal” yang diciptakannya sehingga mampu membuat pembacanya larut kedalam alur ceritanya dan menyelesaikan bacaan hingga akhir. Selain cerita yang seru novel ini juga menghadirkan 2 tokoh legenda Gunung Kelud yaitu Pangeran Mahesasuro dan Lembusuro.
Imajinasi penulis yang kuat dalam membangun plot cerita fantasi dengan setting kerajaan di Jawa masa lampau, kedatangan bangsa Belanda di Jawa, ditambah dengan sedikit legenda Gunung Kelud membuat novel ini memiliki keunggulan sendiri sebagai sebuah novel fantasi lokal yang dengan gagah hadir untuk bersaing ditengah gempuran berbagai novel fantasi terjemahan karya penulis-penulis luar. Kehadiran novel ini tentunya juga bisa membuktikan bahwa tak hanya penulis-penulis luar saja yang mampu membuat sebuah kisah fantasi yang bagus. Malah dengan kisah fantasi bernuansa lokal seperti ini budaya dan legenda lokalpun turut terangkat kembali sehingga membuat para pembaca kita, khususnya generasi muda semakin mengenal dan menghargai budaya dan legendanya.


Resensiator : Fitria Ridhaningsih

resensi buku


Resensi
Judul : 2
Penerbit : Kompas Gramedia
Cetakan : Juni 2011
Tebal : 418 Halaman
2 : Harapan Itu Selalu Ada
            Lingkungan terutama keluarga merupakan faktor yang paling mempengaruhi pola pikir seseorang. Kebiasaan yang tertanam dalam suatu keluarga akan melekat dalam benak seorang anak. Kemudian kebiasaan ini akan  mendarah daging sebagai bagian dari kehidupan sang anak dan menjadi cerminan masa depannya kelak. 2 merupakan Novel kedua karangan Donny Dhirgantoro yang  mengisahkan perjuangan seorang anak yang tumbuh dalam keluarga pecinta bulutangkis dan demi membuat bahagia kedua orang tuanya, ia akhirnya berupaya menjadi pemain bulutangkis yang hebat.
            Anak itu bernama Gusni Annisa Puspita. Terlahir dengan ukuran tubuh yang terlalu besar ternyata merupakan kelebihan sekaligus keterbatasan dalam mewujudkan impiannya. Namun hidup dalam keluarga yang sangat luar biasa dengan ayah yang sangat tangguh, ibu yang memiliki ketabahan dan kekuatan untuk keluarga, dan kakak yang berani dan  sangat penyayang membuat Gusni tumbuh menjadi anak yang tegar dan selalu bahagia. Walau impiannya selalu kandas, Gusni tetap yakin bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan tidak ada yang tak mungkin asalkan terus berusaha.
Dan suatu malam sebuah kenyataan yang tidak pernah Gusni duga terjadi pada dirinya. Ukuran tubuh Gusni yang sangat berbeda dengan keluarganya ternyata merupakan penyakit turunan keluarga. Obesitas, yang akan merenggut kebahagiaannya dan membuat Gusni harus melupakan impiannya. Kenyataan pahit yang harus ia terima seakan meneriakkan bahwa bermimpi saja tidak akan pernah cukup. Namun, Gusni lalu tersadar harapan itu selalu ada. Gusnipun akhirnya bangkit untuk terus mengejar impiannya dan melawan penyakitnya.
            Bermodal keyakinan dan semangat untuk terus hidup, Gusni berlatih keras setiap hari. Setiap pukul 05.00 pagi ia berlari menuju GOR yang berjarak 5 km dari rumahnya untuk pergi latihan bulu tangkis. Di GOR Gusni dibantu pak pelatih yang melatih Gusni sangat tegas dan tanpa kompromi. Hingga suatu hari Gusni melakukan pertandingan pertamanya dan dari sana diketahui bahwa ia memiliki bakat yang menarik. Bakat inilah yang terus diasah sampai membawa Gusni menuju kejuaraan bulutangkis yang membawa nama baik Indonesia.
            Ini bulutangkis, dan ini Indonesia.... Gusni terus berpacu dengan semangatnya yang untuk mengikuti Khatulistiwa Terbuka, kejuaraan bulutangkis internasional bersama enam putri Indonesia lainnya. Gusni bersama kakak kandungnya, Gita menjadi satu tim yang akan menentukan nasib akhir dari pertandingan tersebut. Semua itu membutuhkan banyak pengorbanan. Penderitaan yang harus ditahan Gusni di detik-detik terakhir pertandingan terasa menyesakkan dada pembacanya. Hingga akhirnya pencapaian terbesar itu terwujud dan membuncahkan bulir-bulir bening di pelupuk mata.

            Segala sesuatu diciptakan 2 kali. Dalam dunia imajinasi bersama fikiran dan dalam dunia nyata bersama perjuangan. Begitulah pesan yang ingin disampaikan penulis melalui tokoh dalam cerita ini. Seperti hidup yang tidak sempurna, seseorang mencintai dengan tidak berputus asa. Setiap kerja keras seseorang tidak akan pernah sia-sia bagi Sang Pencipta. Dibalik tema yang sederhana namun penuh makna ini, juga tercermin kepribadian bangsa Indonesia. Pembaca dibuat terhanyut dengan alur cerita yang ringan namun mampu menguras emosi . Novel yang sangat menggugah ini mengajarkan kepada kita bagaimana menghargai hidup. Dan mensyukuri segala kekurangan sebagai suatu anugerah yang harus disyukuri.  
           
Resensiator : Mardho Tiila
Mahasiswa Kimia BP 2010

resensi buku


Dibalik Kegagahan Sahabat-Ku Merapi
Judul               : Anak-Anak Merapi 2
Penulis             : Bambang Joko Susilo
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Juli 2011
Tebal               : X + 227 Halaman

Nyaman, damai dan bersahabat, itulah yang dirasakan penduduk sekitar  terhadap Gunung Merapi. Selain udaranya yang sejuk, ia juga menjadi tempat bagi para penduduk untuk mencari nafkah. Mereka memanfaatkan kesuburan tanah merapi dengan berkebun salak pondoh yang selama ini memberikan penghasilan yang cukup bagi mereka. Tak hanya itu, Merapi juga menjadi perhiasan bagi daerah yang ada disekitarnya.
Namun, persahabatan itu telah disulap menjadi genangan air mata ketika Merapi tak lagi bisa diajak berkompromi. November 2010 lalu merupakan masa paling pedih yang dirasakan sahabat-sahabat merapi yang senantiasa tidur di kaki dan lerengnya. Kenapa tidak, kali ini disaat mata mulai terpejam, tubuhnya yang besar menggeliat membuat bumi di sekitarnya ikut bergetar. Mulutnya menganga besar mengeluarkan gumpalan awan hitam yang disusul luapan lahar panas. Luapan yang disebut masyarakat wedhus gembel itu menyapu perkampungan dan membuat tak ada yang bersisa.
Ratusan orang meninggal dunia, ratusan mengalami luka-luka, dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal. Mereka kehilangan anggota keluarga, rumah, hewan ternak dan harta benda lainnya. Jeritan pilu mengema dimana-mana, menyisakan kepedihan mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Terlebih lagi menyaksikan anak-anak yang menangis histeris karena kehilangan orang tuanya dan orang tua yang kehilangan anaknya. Mereka itu adalah warga Umbulharjo yang persis berada di bawah gunung merapi.
Salah satu saksi kemarahan merapi ini adalah Pak Widodo, beserta istri dan 3 orang anaknya Yudhistira, Bimo serta Jono. Saat terjadi letusan mereka mencoba untuk menyelamatkan diri dan menjauh dari kaki merapi. Istri dan 3 anak pak widodo menaiki truk bersama-sama dengan penduduk lainnya tapi tidak dengan Pak Widodo. Ia menggunakan sepeda motor nekat memutar balik arak ke arah puncak merapi untuk menjemput Mbah Kakung dan Mbah Putri.
Kenekatan Pak Widodo menimbulkan keresahan bagi istri dan 3 anaknya. Mengapa tidak, wedhus gembel yang sangat ditakuti akan menyapu apapun yang ia lalui. Keresahan ini makin menjadi-jadi setelah mereka sampai di pengungsian dan beberapa hari setelah malam itu Pak Widodo tidak juga menampakkan batang hidungnya. Hingga akhirnya anak-anak Pak Widodo lah yang memutuskan untuk mencari dimana keberadaan ayahnya. Dengan gaya penceritaan penulis, perjuangan “ Anak-anak Merapi “ ini dalam menemukan ayahnya seakan membawa pembaca pada situasi yang dialami tokoh-tokoh dalam novel. Rasa gundah dan pikiran yang berkecamuk hingga Pak Widodo ditemukan turut mengiringi perjalanan mereka.
Cerita mengalir begitu indah. Pembaca bisa merasakan bagaimana keadaan yang dialami anak-anak dan warga yang berdiam seputaran gunung merapi. Novel karangan Bambang Joko Susilo ini lahir karena adanya kecintaan dan empati penulis pada anak-anak, khususnya mereka para korban amukan merapi. Penulis mengangkat cerita dari kisah nyata yang dialami oleh penduduk seputaran gunung merapi. Dengan segala kemampuan yang dimiliki penulis ia barusaha untuk menyajikan cerita yang bermanfaat bagi pembaca.
Banyak pesan moral yang terdapat di dalam novel ini. Salah satu diantaranya adalah penulis yang mengimbau para pembaca untuk selalu berserah diri pada Allah SWT dan semua yang ada adalah miliknya. Selain itu, novel ini mendidik bagaimana hubungan yang harus dilakukan oleh manusia dengan alam. Bagaimana anak-anak belajar berbagi dan berempati dengan sesamanya. Serta bagaimana bersikap dalam menerima cobaan dari Tuhan.
Resensiator: Faeza Rezi S
Mahasiswa Teknologi Pendidikan UNP TM 2010