Resensi
Judul : 2
Penerbit : Kompas Gramedia
Cetakan : Juni 2011
Tebal : 418 Halaman
2 : Harapan Itu Selalu Ada
Lingkungan terutama keluarga merupakan faktor yang paling mempengaruhi pola pikir seseorang. Kebiasaan yang tertanam dalam suatu keluarga akan melekat dalam benak seorang anak. Kemudian kebiasaan ini akan mendarah daging sebagai bagian dari kehidupan sang anak dan menjadi cerminan masa depannya kelak. 2 merupakan Novel kedua karangan Donny Dhirgantoro yang mengisahkan perjuangan seorang anak yang tumbuh dalam keluarga pecinta bulutangkis dan demi membuat bahagia kedua orang tuanya, ia akhirnya berupaya menjadi pemain bulutangkis yang hebat.
Anak itu bernama Gusni Annisa Puspita. Terlahir dengan ukuran tubuh yang terlalu besar ternyata merupakan kelebihan sekaligus keterbatasan dalam mewujudkan impiannya. Namun hidup dalam keluarga yang sangat luar biasa dengan ayah yang sangat tangguh, ibu yang memiliki ketabahan dan kekuatan untuk keluarga, dan kakak yang berani dan sangat penyayang membuat Gusni tumbuh menjadi anak yang tegar dan selalu bahagia. Walau impiannya selalu kandas, Gusni tetap yakin bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan tidak ada yang tak mungkin asalkan terus berusaha.
Dan suatu malam sebuah kenyataan yang tidak pernah Gusni duga terjadi pada dirinya. Ukuran tubuh Gusni yang sangat berbeda dengan keluarganya ternyata merupakan penyakit turunan keluarga. Obesitas, yang akan merenggut kebahagiaannya dan membuat Gusni harus melupakan impiannya. Kenyataan pahit yang harus ia terima seakan meneriakkan bahwa bermimpi saja tidak akan pernah cukup. Namun, Gusni lalu tersadar harapan itu selalu ada. Gusnipun akhirnya bangkit untuk terus mengejar impiannya dan melawan penyakitnya.
Bermodal keyakinan dan semangat untuk terus hidup, Gusni berlatih keras setiap hari. Setiap pukul 05.00 pagi ia berlari menuju GOR yang berjarak 5 km dari rumahnya untuk pergi latihan bulu tangkis. Di GOR Gusni dibantu pak pelatih yang melatih Gusni sangat tegas dan tanpa kompromi. Hingga suatu hari Gusni melakukan pertandingan pertamanya dan dari sana diketahui bahwa ia memiliki bakat yang menarik. Bakat inilah yang terus diasah sampai membawa Gusni menuju kejuaraan bulutangkis yang membawa nama baik Indonesia.
Ini bulutangkis, dan ini Indonesia.... Gusni terus berpacu dengan semangatnya yang untuk mengikuti Khatulistiwa Terbuka, kejuaraan bulutangkis internasional bersama enam putri Indonesia lainnya. Gusni bersama kakak kandungnya, Gita menjadi satu tim yang akan menentukan nasib akhir dari pertandingan tersebut. Semua itu membutuhkan banyak pengorbanan. Penderitaan yang harus ditahan Gusni di detik-detik terakhir pertandingan terasa menyesakkan dada pembacanya. Hingga akhirnya pencapaian terbesar itu terwujud dan membuncahkan bulir-bulir bening di pelupuk mata.
Segala sesuatu diciptakan 2 kali. Dalam dunia imajinasi bersama fikiran dan dalam dunia nyata bersama perjuangan. Begitulah pesan yang ingin disampaikan penulis melalui tokoh dalam cerita ini. Seperti hidup yang tidak sempurna, seseorang mencintai dengan tidak berputus asa. Setiap kerja keras seseorang tidak akan pernah sia-sia bagi Sang Pencipta. Dibalik tema yang sederhana namun penuh makna ini, juga tercermin kepribadian bangsa Indonesia. Pembaca dibuat terhanyut dengan alur cerita yang ringan namun mampu menguras emosi . Novel yang sangat menggugah ini mengajarkan kepada kita bagaimana menghargai hidup. Dan mensyukuri segala kekurangan sebagai suatu anugerah yang harus disyukuri.
Resensiator : Mardho Tiila
Mahasiswa Kimia BP 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar