Jumat, 27 Januari 2012

resensi buku



Resensi
Judul : Anak Rembulan: Negeri Misteri di Balik Pohon Kenari  
Penulis Djokolelono 
Penerbit Mizan 
Cetakan : Oktober  2011
Tebal : 350 halaman




“ Bertualang di Dunia Imajinasi Sang Djokolelono “
Djokolelono adalah penulis novel produktif di era 70-80an. Novel debutannya yang berjudul “Jatuh ke Matahari” merupakan novel fiksi ilmiah paling awal yang ditulis oleh penulis Indonesia dimana materi kisahnya dianggap jauh melebihi jaman ketika novel itu dibuat. Dan sekarang ia hadir kembali dengan kehebatan imajinasinya yang dituangkan dalam novel  “ Anak Rembulan “.
Dikidahkan seorang anak bernama Nono menghabiskan masa liburan sekolah di kampung halamannya. Berharap dapat melakukan hal-hal  yang menyenangkan namun Nono malah terjebak di sebuah tempat yang asing dan belum pernah ia temui sebelumnya. Kehidupan Nono berubah setelah  ia terjebak di dalam batang pohon kenari tua. Bagaikan sebuah lorong waktu, pohon tua itu telah membawa Nono tiba masa lampau, tepatnya di zaman Belanda. Banyak peristiwa dan kejadian aneh yang di alami Nono. Hal pertama yang di temui Nono adalah terjebak dan dikepung oleh pasukan Belanda dan kemudian bertemu dengan seorang gadis cantik yang bisa berubah menjadi seekor burung kenari.
 Setelah berhasil lolos dari kepungan pasukan Belanda, Nono malah terjebak di sebuah desa dimana ia tiba-tiba saja menjadi pelayan di warung makan  milik Mbok Rimbi, seorang wanita penganut aliran Dewi Kali. Di warung tersebut Nono mendapatkan perlakuan kasar oleh Mbok Rimbi, ia dipaksa kerja rodi melayanai para pembeli yang datang, jika tidak tamparan keras harus diterima Nono. Banyak kejanggalan yang Nono temui disana, mulai dari kebiasaan aneh Mbok Rimbi yang menurut warga sekitar selalu berganti pelayan setiap bulan purnama karena pelayan sebelumnya hilang secara misterius, kedekatan Mbok Rimbi dengan pelanggannya yang ternyata merupakan  sekelompok  pencuri bernama Semut Hitam, serta sebutan sebagai “Anak Rembulan” yang diberikan oleh Semut Hitam kepada Nono. Meskipun pada akhirnya Nono berhasil melarikan diri dari jeratan Mbok Rimbi, namun nono belum juga berhasil pulang ke”dunia”nya. Petualangan lainnya kemudian dimulai, Nono berada di sebuah kerajaan aneh yang dipimpin oleh seorang ratu bernama Sri Ratu Merah yang kejam dan ternyata masih anak-anak dan sebaya dengan Nono. Disana ia terperangkap dalam sebuah peristiwa peperangan yang tidak hanya perang fisik saja namun juga perang melawan kekuatan-kekuatan mistis untuk memperebutkan kerajaan Sri Ratu Merah.
Bagi penyuka cerita petualangan dan fantasi lokal, karya terbaru dari Djokolelono ini wajib menjadi santapan bacaan. Dengan kekuatan imajinasinya yang tinggi, Djokolelono berhasil menceritakan setiap detil suasana dari “dunia khayal” yang diciptakannya sehingga mampu membuat pembacanya larut kedalam alur ceritanya dan menyelesaikan bacaan hingga akhir. Selain cerita yang seru novel ini juga menghadirkan 2 tokoh legenda Gunung Kelud yaitu Pangeran Mahesasuro dan Lembusuro.
Imajinasi penulis yang kuat dalam membangun plot cerita fantasi dengan setting kerajaan di Jawa masa lampau, kedatangan bangsa Belanda di Jawa, ditambah dengan sedikit legenda Gunung Kelud membuat novel ini memiliki keunggulan sendiri sebagai sebuah novel fantasi lokal yang dengan gagah hadir untuk bersaing ditengah gempuran berbagai novel fantasi terjemahan karya penulis-penulis luar. Kehadiran novel ini tentunya juga bisa membuktikan bahwa tak hanya penulis-penulis luar saja yang mampu membuat sebuah kisah fantasi yang bagus. Malah dengan kisah fantasi bernuansa lokal seperti ini budaya dan legenda lokalpun turut terangkat kembali sehingga membuat para pembaca kita, khususnya generasi muda semakin mengenal dan menghargai budaya dan legendanya.


Resensiator : Fitria Ridhaningsih

resensi buku


Resensi
Judul : 2
Penerbit : Kompas Gramedia
Cetakan : Juni 2011
Tebal : 418 Halaman
2 : Harapan Itu Selalu Ada
            Lingkungan terutama keluarga merupakan faktor yang paling mempengaruhi pola pikir seseorang. Kebiasaan yang tertanam dalam suatu keluarga akan melekat dalam benak seorang anak. Kemudian kebiasaan ini akan  mendarah daging sebagai bagian dari kehidupan sang anak dan menjadi cerminan masa depannya kelak. 2 merupakan Novel kedua karangan Donny Dhirgantoro yang  mengisahkan perjuangan seorang anak yang tumbuh dalam keluarga pecinta bulutangkis dan demi membuat bahagia kedua orang tuanya, ia akhirnya berupaya menjadi pemain bulutangkis yang hebat.
            Anak itu bernama Gusni Annisa Puspita. Terlahir dengan ukuran tubuh yang terlalu besar ternyata merupakan kelebihan sekaligus keterbatasan dalam mewujudkan impiannya. Namun hidup dalam keluarga yang sangat luar biasa dengan ayah yang sangat tangguh, ibu yang memiliki ketabahan dan kekuatan untuk keluarga, dan kakak yang berani dan  sangat penyayang membuat Gusni tumbuh menjadi anak yang tegar dan selalu bahagia. Walau impiannya selalu kandas, Gusni tetap yakin bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan tidak ada yang tak mungkin asalkan terus berusaha.
Dan suatu malam sebuah kenyataan yang tidak pernah Gusni duga terjadi pada dirinya. Ukuran tubuh Gusni yang sangat berbeda dengan keluarganya ternyata merupakan penyakit turunan keluarga. Obesitas, yang akan merenggut kebahagiaannya dan membuat Gusni harus melupakan impiannya. Kenyataan pahit yang harus ia terima seakan meneriakkan bahwa bermimpi saja tidak akan pernah cukup. Namun, Gusni lalu tersadar harapan itu selalu ada. Gusnipun akhirnya bangkit untuk terus mengejar impiannya dan melawan penyakitnya.
            Bermodal keyakinan dan semangat untuk terus hidup, Gusni berlatih keras setiap hari. Setiap pukul 05.00 pagi ia berlari menuju GOR yang berjarak 5 km dari rumahnya untuk pergi latihan bulu tangkis. Di GOR Gusni dibantu pak pelatih yang melatih Gusni sangat tegas dan tanpa kompromi. Hingga suatu hari Gusni melakukan pertandingan pertamanya dan dari sana diketahui bahwa ia memiliki bakat yang menarik. Bakat inilah yang terus diasah sampai membawa Gusni menuju kejuaraan bulutangkis yang membawa nama baik Indonesia.
            Ini bulutangkis, dan ini Indonesia.... Gusni terus berpacu dengan semangatnya yang untuk mengikuti Khatulistiwa Terbuka, kejuaraan bulutangkis internasional bersama enam putri Indonesia lainnya. Gusni bersama kakak kandungnya, Gita menjadi satu tim yang akan menentukan nasib akhir dari pertandingan tersebut. Semua itu membutuhkan banyak pengorbanan. Penderitaan yang harus ditahan Gusni di detik-detik terakhir pertandingan terasa menyesakkan dada pembacanya. Hingga akhirnya pencapaian terbesar itu terwujud dan membuncahkan bulir-bulir bening di pelupuk mata.

            Segala sesuatu diciptakan 2 kali. Dalam dunia imajinasi bersama fikiran dan dalam dunia nyata bersama perjuangan. Begitulah pesan yang ingin disampaikan penulis melalui tokoh dalam cerita ini. Seperti hidup yang tidak sempurna, seseorang mencintai dengan tidak berputus asa. Setiap kerja keras seseorang tidak akan pernah sia-sia bagi Sang Pencipta. Dibalik tema yang sederhana namun penuh makna ini, juga tercermin kepribadian bangsa Indonesia. Pembaca dibuat terhanyut dengan alur cerita yang ringan namun mampu menguras emosi . Novel yang sangat menggugah ini mengajarkan kepada kita bagaimana menghargai hidup. Dan mensyukuri segala kekurangan sebagai suatu anugerah yang harus disyukuri.  
           
Resensiator : Mardho Tiila
Mahasiswa Kimia BP 2010

resensi buku


Dibalik Kegagahan Sahabat-Ku Merapi
Judul               : Anak-Anak Merapi 2
Penulis             : Bambang Joko Susilo
Penerbit           : Republika
Cetakan           : Juli 2011
Tebal               : X + 227 Halaman

Nyaman, damai dan bersahabat, itulah yang dirasakan penduduk sekitar  terhadap Gunung Merapi. Selain udaranya yang sejuk, ia juga menjadi tempat bagi para penduduk untuk mencari nafkah. Mereka memanfaatkan kesuburan tanah merapi dengan berkebun salak pondoh yang selama ini memberikan penghasilan yang cukup bagi mereka. Tak hanya itu, Merapi juga menjadi perhiasan bagi daerah yang ada disekitarnya.
Namun, persahabatan itu telah disulap menjadi genangan air mata ketika Merapi tak lagi bisa diajak berkompromi. November 2010 lalu merupakan masa paling pedih yang dirasakan sahabat-sahabat merapi yang senantiasa tidur di kaki dan lerengnya. Kenapa tidak, kali ini disaat mata mulai terpejam, tubuhnya yang besar menggeliat membuat bumi di sekitarnya ikut bergetar. Mulutnya menganga besar mengeluarkan gumpalan awan hitam yang disusul luapan lahar panas. Luapan yang disebut masyarakat wedhus gembel itu menyapu perkampungan dan membuat tak ada yang bersisa.
Ratusan orang meninggal dunia, ratusan mengalami luka-luka, dan ribuan lainnya kehilangan tempat tinggal. Mereka kehilangan anggota keluarga, rumah, hewan ternak dan harta benda lainnya. Jeritan pilu mengema dimana-mana, menyisakan kepedihan mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Terlebih lagi menyaksikan anak-anak yang menangis histeris karena kehilangan orang tuanya dan orang tua yang kehilangan anaknya. Mereka itu adalah warga Umbulharjo yang persis berada di bawah gunung merapi.
Salah satu saksi kemarahan merapi ini adalah Pak Widodo, beserta istri dan 3 orang anaknya Yudhistira, Bimo serta Jono. Saat terjadi letusan mereka mencoba untuk menyelamatkan diri dan menjauh dari kaki merapi. Istri dan 3 anak pak widodo menaiki truk bersama-sama dengan penduduk lainnya tapi tidak dengan Pak Widodo. Ia menggunakan sepeda motor nekat memutar balik arak ke arah puncak merapi untuk menjemput Mbah Kakung dan Mbah Putri.
Kenekatan Pak Widodo menimbulkan keresahan bagi istri dan 3 anaknya. Mengapa tidak, wedhus gembel yang sangat ditakuti akan menyapu apapun yang ia lalui. Keresahan ini makin menjadi-jadi setelah mereka sampai di pengungsian dan beberapa hari setelah malam itu Pak Widodo tidak juga menampakkan batang hidungnya. Hingga akhirnya anak-anak Pak Widodo lah yang memutuskan untuk mencari dimana keberadaan ayahnya. Dengan gaya penceritaan penulis, perjuangan “ Anak-anak Merapi “ ini dalam menemukan ayahnya seakan membawa pembaca pada situasi yang dialami tokoh-tokoh dalam novel. Rasa gundah dan pikiran yang berkecamuk hingga Pak Widodo ditemukan turut mengiringi perjalanan mereka.
Cerita mengalir begitu indah. Pembaca bisa merasakan bagaimana keadaan yang dialami anak-anak dan warga yang berdiam seputaran gunung merapi. Novel karangan Bambang Joko Susilo ini lahir karena adanya kecintaan dan empati penulis pada anak-anak, khususnya mereka para korban amukan merapi. Penulis mengangkat cerita dari kisah nyata yang dialami oleh penduduk seputaran gunung merapi. Dengan segala kemampuan yang dimiliki penulis ia barusaha untuk menyajikan cerita yang bermanfaat bagi pembaca.
Banyak pesan moral yang terdapat di dalam novel ini. Salah satu diantaranya adalah penulis yang mengimbau para pembaca untuk selalu berserah diri pada Allah SWT dan semua yang ada adalah miliknya. Selain itu, novel ini mendidik bagaimana hubungan yang harus dilakukan oleh manusia dengan alam. Bagaimana anak-anak belajar berbagi dan berempati dengan sesamanya. Serta bagaimana bersikap dalam menerima cobaan dari Tuhan.
Resensiator: Faeza Rezi S
Mahasiswa Teknologi Pendidikan UNP TM 2010

resensi buku


“ Sekeping Cinta untuk Ayah ”
Judul : Sebelas Patriot
Penulis : Andrea Hirata
Cetakan Pertama : Juni 2011
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Tebal : xii + 112 halaman
Harga : Rp. 35.000,-

            “ The Power of Love “, barangkali kalimat ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa ungkapan itu benar adanya. Setiap orang bisa melakukan apa saja demi sebuah kata bernama: “ cinta “. Kiranya itu jugalah yang dialami sosok Ikal dalam novel ini. Demi kecintaan terhadap sang ayah, segala upaya dilakukan untuk membahagiakan sosok yang begitu dikaguminya itu.
            Semua berawal ketika Ikal menemukan selembar foto di tempat tersembunyi di rumahnya. Di foto itu tampak sesosok pria sedang menggenggam tropi namun tidak dengan raut muka gembira. Berhari-hari ia diselimuti oleh rasa penasaran, siapakah sosok lelaki itu ? Apalagi ketika sang Ibu marah besar saat menemukannya sedang mengamati foto tersebut. Hal ini semakin membuat Ikal berapi-api untuk mengetahui semuanya.
            Hanya gemuruh yang terdengar menggelegar di dada si-aku ketika mengetahui siapa lelaki yang memegang tropi disana. Ia tak dapat berkata-kata saat mendengar cerita pilu tentang kisah hidup lelaki tersebut. Hanya dendam yang membara dirasakannya untuk mengembalikan semua kebahagiaan yang telah dirampas dari sang-Patriot. Ikal yang awalnya tidak menggilai bola, menjadi begitu tergila-gila, bahkan hampir benar-benar gila. Ia berlatih sepakbola secara rutin demi bisa bergabung dengan PSSI, klub yang sangat dikagumi sang-Patriot. Berkat kegigihannya itu, seleksi semi seleksi berhasil dilaluinya. Hanya saja ketika tinggal selangkah lagi untuk menggapai impiannya itu, semua harus berakhir dengan kekecewaan yang mendalam. Tuhan belum mengizinkannya untuk bergabung dengan PSSI. Namun pada saat-saat tersulit itu, kata-kata sang Ayah menggetarkan hatinya : “ Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya “.
            Begitu besar kecintaan yang ditunjukkan Ikal terhadap Patriot-nya dalam novel ini. Tak satu jalan ke Roma. Kira-kira dengan ungkapan itulah ia berkelana ke Benua Eropa untuk bertemu dengan Klub Sepakbola kedua yang digemari Patriot-nya setelah PSSI, yakni Real Madrid, yang kemudian menjadi Klub Favoritnya juga. Bekal hidup sehari-hari yang tidak memadai membuat Ikal harus bekerja keras di negeri orang. Siang hari menjadi tukang cat dan angkat perabot. Sedangkan pada malam hari ia menjadi asisten pembantu dari pembantu pelatih utama (General Assistant, nama kerennya, kacung kenyataannya), yang bertugas mengambil bola dan mengumpulkan kaus para pemain bola. Namun demi bisa mengumpulkan uang untuk membeli kaus Luis Figo dan  melihat Klub Junior Barca berlatih, semua itu masih terasa ringan untuknya. Pada akhirnya, nasib baik pun tak betah menjauh dari Ikal. Ia mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan lebih dari apa yang ia bayangkan.
            Novel ini tak hanya menceritakan tentang kecintaan Ikal terhadap Sang Patriot, namun juga terhadap Tanah Air kita sendiri, Indonesia. Betapapun banyak klub-klub sepakbola yang berkompeten di luar sana, ia tetap menempatkan PSSI pada urutan pertama di hatinya. Kekuatan tekad untuk memperbaiki nasib buruk bangsa kita, dan kebanggaannya bernaung di bawah negara yang padanya para pahlawan kita rela menumpahkan darah, seharusnya dapat menjadi suatu fokus yang harus kita perhitungkan, yang tidak hanya sekedar dibaca. Hal ini semakin terasa pada salah satu dialog yang meneriakkan kata : “ Indonesia ! Indonesia ! Indonesia ! “.  Seperi minyak yang disiramkan pada api, kobaran semangat itu terasa mengalir ke diri pembaca. Karena sama seperti novel-novel sebelumnya, dengan gaya bahasa yang memukau, Andrea Hirata mampu membuat pembaca terbawa suasana seperti dibius oleh tiap kata-kata yang dirangkai sempurna. Bahkan tertawa terbahak-bahak saat membayangkan suasana yang diceritakan. Dan meneteskan air mata seolah ikut merasakan kesedihan yang dialami tokoh. Inilah yang paling menarik dimana dengan kemampuan penulis untuk melibatkan pembaca dalam tiap suasana, dapat menjadi nyawa dari novel ini.  
Resensiator : Elvia Mawarni, Mahasiswa Kimia UNP, TM 2009