Tetap ” kokoh “ di Usia Senja
Usia yang semakin renta, bukan lah alasan untuk bermalas-malasan.Jarum jam telah menunjuk ke angka 2 lewat 10 menit. Selasa 22 November 2011, rombongan peserta Pelatihan Jurnalistik Tingkat Lanjut Nasional (PJTLN) ditugaskan untuk berburu berita ke Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK). Setelah sebelumnya menggali informasi untuk menentukan topik dan angle di benteng fort de kock, rombongan yang terdiri dari 7 orang tersebut melanjutkan pemburuan ke lokasi lainnya. Dengan menyusuri Jembatan Limpapeh yang terbuat dari kayu dan akan bergoyang ketika dilewati, kami langsung terhubung dengan target lokasi selanjutnya, yakni Museum Rumah Adat Baanjuang atau lebih dikenal dengan rumah gadang.
Museum Rumah Adat Baanjuang dibangun pada tahun 1935 yang terletak di dalam Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan atau lebih dikenal dengan sebutan Kebun Binatang Bukittingi. Rumah gadang bagonjong gajah maharam ini memiliki 9 ruang dan anjungan di sisi kanan dan kiri. Di dinding rumah adat terdapat berbagai ukiran yang mencerminkan ketinggian Budaya Minangkabau. Seperti ukiran Jarek Takambang, Kaluak Paku, Itiak Pulang Patang, dan sebaginya. Dan bagian atapnya terbuat dari ijuk yang dapat menahan derasnya hujan dan terik matahari.
Pucuk gonjong rumah gadang tampak menjuluk segerombolan awan putih yang bergelayut di langit biru kota Bukittinggi. Setelah puas melihat-lihat koleksi benda sejarah dan budaya di dalamnya, Rumah gadang yang menjadi salah satu ikon kota wisata ini membuat rombongan PJTLN berdecak kagum. “ Hanya dengan 1000 rupiah kita bisa melihat kekayaan masyarakat Minangkabau “, ungkap Lulu, salah satu peserta yang berasal dari Medan, Sumatera Utara.
Dari sekian banyak orang yang lalu-lalang, di taman rumah gadang tampak berdiri seorang lelaki dengan rambut telah memutih, berkacamata, dan dengan kamera SLR bermerk Nikon menggantung di lehernya. Matanya liar mencari orang-orang yang akan membeli jasanya sebagai pengambil foto. Pancaran matahari yang menyirami tubuhnya, tak membuat lelaki itu beranjak dari taman dan mencari tempat untuk berteduh.
Saat ku hampiri, sepasang bola mata di wajah keriputnya berbinar-binar. Dan seulas senyum ramah mengembang saat ku minta waktunya untuk bercerita-cerita. Kamipun memposisikan diri untuk duduk di atas tembok semen yang menjadi pembatas antara taman dan jalan.
Kami memulai percakapan dengan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Lelaki itu bernama Angku Rajo Basa. Ia bersama keluarganya telah lama menetap di kota Bukittinggi. Rumahnya tak jauh dari pusat kota, dekat terminal. Hanya memerlukan waktu lebih kurang 20 menit dari rumah untuk mencapai lokasi yang telah lama menjadi sumber rezekinya itu. “ Bapak sudah puluhan tahun menjalani profesi sebagai fotografer keliling di kota ini, dan lokasi utamanya memang di sekitar Rumah Gadang “, tuturnya. Namun sesekali ia juga berpindah ke lokasi lain jika pengunjung rumah gadang sedang sepi, namun masih di dalam Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan.
Dengan tatapan mata yang fokus ia menuturkan bahwa pengunjung yang datang dan membeli jasa fotonya sebagian besar berasal dari luar kota Bukittinggi, seperti Pekan Baru, Jakarta dan daerah lainnya. ” Orang Bukittinggi jarang yang berkunjung kesini nak“, ungkapnya. Namun Angku Rajo Basa tetap mengaku kagum dengan antusias masyarakat yang rela jauh-jauh berkunjung ke rumah gadang ini. Terlebih saat libur, rumah gadang akan ramai didatangi pengunjung, tambahnya.
Usia senja bukanlah alasan untuk bermalas-malasan. Hari-harinya selalu dihabiskan di sekitar rumah gadang untuk mengumpulkan beberapa lembar uang saja dari pekerjaannya itu. Penghasilan perhari tidak pernah menentu. Pengunjung dapat merogoh kantong dan mengeluarkan uang sebesar Rp 20.000,- untuk membeli jasanya beserta foto langsung cetak ukuran 5 R. Di hari-hati biasa, dari pagi sampai sore kadang ia hanya mendapatkan uang sebesar Rp 20.000,- sampai Rp 50.000,- untuk dibawa pulang. “ Cukuplah nak untuk belanja hidup keluarga dalam sehari !”, ujarnya sembari tersenyum.
Azan Ashar pun berkumandang di penjuru kota Bukittinggi. Masih dengan senyuman pria tua itu bangkit dari duduknya dan pamit pergi untuk menunaikan shalat. Dengan gerakan kaki yang lambat ia berjalan menuju Mushalla terdekat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar