Jumat, 27 Januari 2012

resensi buku


“ Man Shabara Zafira”
Judul                   : Ranah 3 Warna
Penulis                 : A. Fuadi
Penerbit               : PT Gramedia Pustaka  Utama
Cerakan Pertama : Januari 2011
Jumlah Halaman  : IX + 473 halaman
Harga                   : Rp 65.000
           
            Ranah 3 warna merupakan novel kedua dari trilogi Negeri Lima Menara. Sama dengan novel sebelumnya, novel ini juga menceritakan perjalanan hidup tokoh utama, Alif  Fikri dalam menggapai kesuksesan yang berhak didapatkannya, meskipun dari kalangan yang kurang berada. Pada novel Negeri Lima Menara, Alif membuktikan kekuatan mantra “ man jadda wajadda” yang diajarkan Kiai Rais, gurunya di Pondok Pesantren Madani. Pada novel kedua ini, ia kembali berusaha menggapai mimpi-mimpinya dengan sebuah kekuatan baru, yang tertuang dalam sebuah mantra : “ man shabara zafira “, siapa yang bersabar akan beruntung.  
            Setelah tamat dari Pondok Pesantren Madani, Alif  pulang ke kampung halamannya. Masalah mulai menyeruak disini. Cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan ilmu umum ke Perguruan Tinggi Negeri hampir samar. Semua orang meragukan kemampuannya sebagai seorang tamatan pesantren untuk lulus dalam mengikuti ujian persamaan SMA dan berhasil menaklukkan UMPTN. Cemoohan, dan remehan dilontarkan orang-orang disekeliling dengan bertubi-tubi. Namun bukan alif namanya jika hanya  dengan kata-kata itu ia akan mundur dalam pertempuran. Berbekal usaha, doa, dan kesabaran, ia hadang rintangan apapun yang  menghalangi langkahnya.  “ Saya akan buktikan ! “. Sebuah “dendam” menggelegak di dalam diri Alif. Ia berjanji untuk membuktikan kepada semua orang bahwa bukan mereka yang menentukan nasibnya, melainkan ia dan Tuhan .
            Satu kekuatan mantra “ man shabara zafira “ telah ia buktikan. Berkat kerja keras, ketekunan serta kesabaran selama 2 bulan, ijazah SMA pun didapatkannya. Sekarang Alif harus mempersiapkan lagi bekal untuk mengikuti UMPTN. Lagi-lagi keraguan dari orang terdekat menikam bathinnya. Alif mengakui dirinya memang kurang mampu dalam hal hitungan, ia yakin bisa menaklukkannya, namun sayangnya ia tak punya cukup waktu. Dengan berat hati ia mengubur mimpinya untuk mengambil jurusan Penerbangan ITB, dan impian untuk terbang ke Amerika. Namun tak satu jalan ke roma. Sebuah pilihan lain menarik hatinya, yakni Jurusan Hubungan Internasional UNPAD. Dengan harapan bisa mengantarnya sekolah ke luar negeri, bahkan Amerika, Alif kembali bersemangat, dan berusaha.
            Detik-detik menjelang ujian ia persiapkan sematang mungkin. Tak ada waktu yang terlewatkan tanpa belajar. Di dinding-dinding kamar tertempel kertas-kertas berisi ringkasan materi. Suatu keadaaan yang akan membuat hati pembaca merasa tergugah atas kekuatan tekad dari seorang anak kampung, hidup pas-pasan, tamatan pesantren, dan diremehkan banyak orang. Namun berbekal mantera “man jadda wajadda” dan “man shabara zafira” Alif menggulung semua cemoohan, simpati, dan pandangan sebelah mata menjadi sebuah roda yang akan mengantarnya ke pintu Jurusan Hubungan Internasional UNPAD. “ Sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang sabar ”. Ia pagut kata-kata itu, dan benar ! Tuhan yang selalu ada dalam do’a nya juga memeluk mimpi Alif. UMPTN pun terlewati dengan berbagai rasa yang berkecemuk hingga detik-detik pengumuman hasil ujian.
            Melalui  koran Haluan, dengan nafas saling memburu, Alif dan sang ayah mengamati nama-nama peserta yang lulus UMPTN satu persatu. Beberapa nama peserta terlewati, dada pembaca ikut bergemuruh. Disini terlihat kemahiran penulis melibatkan pembaca dalam setiap situasi. Dan pencarian pun berhenti pada satu nama : Alif Fikri ! Sebuah senyum yang paling cerah terbit dari sudut bibir sang ayah. Beralaskan koran pengumuman, kedua anak beranak ini bersujud memanjatkan rasa syukur yang tak terperi keharibaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sesaat kemudian Alif pun bangkit dan meneriakkan kepada dunia akan apa yang menggelegak di dalam dirimya. “ Semua pandangan sebelah mata serta ucapan meremehkan dan belas kasihan telah aku bayar tuntas. Lunas ! “
            Keajaiban usaha, do’a dan kesabaran telah didapatkan Alif. Ia beruntung berkat kesabaran yang dimilikinya. Tuhan membuktikan bahwa ia senantiasa bersama orang-orang yang sabar, dan Alif adalah salah satunya. Masih panjang perjalanan yang dilalui Alif menuju mimpi-mimpinya di “Ranah 3 Warna” salah satunya Amerika. Dan  masih banyak lagi keuntungan-keuntungan yang ia dapatkan berkat kesabaran yang ia jaga.
Resensiator : Elvia Mawarni
Mahasiswa Kimia FMIPA TM 2009









Tidak ada komentar:

Posting Komentar