Jumat, 27 Januari 2012

Artikel


Artikel
Berlangganan Banjir
Oleh : Elvia Mawarni

Banjir  sudah menjadi sesuatu yang fenomenal di Indonesia. Setiap tahun diseluruh penjuru Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari daerah terpencil hingga perkotaan, banjir sudah menjadi langganan bagi masyarakat Indonesia. Meskipun masalah ini sering menjadi sorotan publik, dan sering diberitakan, toh tidak ada perubahan. Misalkan saja di Jakarta, sebuah kota metropolitan sekaligus sebagai Ibukota Rebublik Indonesia ini tidak pernah absen tiap tahunnya dari bencana banjir. Apa yang salah dengan semua ini ?
Secara geografis, wilayah Indonesia memang “ dikepung ” oleh air. Banyak terdapat sungai besar, maupun kecil beserta danau dan telaga diberbagai pulau di Indonesia. Belum lagi lautan dan samudera yang mengelilingi wilayah kepulauan Indinesia. Bahkan isu-isu yang beredar belakangan ini menyebutkan bahwa peningkatan suhu bumi yang diakibatkan oleh pemanasan global akan mengancam kehidupan manusia yang bermukim di negara kepulauan. Nicholas Stern, pengarang "The Stern Report" (2006) mengungkapkan sebuah fakta mengenai perubahan iklim, dimana negara kepulauan menjadi sangat rawan terhadap peningkatan air laut dan badai, dan Indonesia termasuk sebagai salah satu negara yang amat rawan terkena dampak dari masalah ini.
Menurut sebuah laporan iklim PBB, suhu dunia diperkirakan akan bertambah diantara 1.1 dan 6.4 derajat Celsius (2.0 dan 11.5 derajat Fahrenheit) sementara air laut akan mengalami peningkatan antara 18 cm dan 59 cm (7 dan 23 inci) diabad ini. Armi Susandi, seorang meteorologis di Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkirakan tingkatan air laut akan naik dengan rata-rata 0.5 cm per tahun sampai 2080, sementara kecepatan perendaman Jakarta akan lebih tinggi karena tempatnya yang pas berada diatas tingkatan laut, yakni 0.87 cm per tahun.
Dilain sisi, bencana banjir dan tanah longsor masih akan menjadi ancaman bagi hampir seluruh wilayah di Indonesia hingga Februari 2012. Banjir masih akan mengancam dikarenan curah hujan yang tinggi. Berdasarkan prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) curah hujan diperkirakan menjadi lebih tinggi, yaitu mencapai tiga kali lipat dibanding biasanya dan hal tersebut bisa mengakibatkan banjir dan tanah longsor di wilayah Indonesia.
Meskipun demikian, bencana banjir ini tak serta merta diakibatkan oleh kondisi geografis saja, namun juga karena ulah tangan manusia. Contohnya saja penggundulan hutan. Jika dulu Indonesia bisa berbangga diri karena memiliki area hutan yang luas dan dikatakan sebagai " paru-paru dunia ", namun sekarang kebanggaan itu hanya tinggal sejarah. Area  hutan Indonesia yang masih berada dalam keadaan baik hanyalah sekitar 30%, selebihnya mengalami kerusakan. Tentu saja penggundulan ini tidak terjadi dengan sendirinya. Banyak tangan-tangan tak bertanggungjawab yang terlibat langsung dalam hal ini. Barangkali bagi mereka yang memiliki Hak Pengusaha Hutan (HPH) dari pemerintah bisa ditoleransi. Namun bagi mereka yang memanfaatkan untuk kepentingan pribadi, hal ini sungguh sangat tidak manusiawi. Bayangkan saja bahaya yang akan mengancam keselamatan penduduk, seperti banjir, tanah longsor, dan bahkan memperparah keadaan bumi yang telah mengalami pemanasan global.
Mungkin saja mereka tidak pernah berpikir kedepan, sehingga menganggap penebangan hutan sebagai suatu hal yang sepele. Tapi sekarang coba pikirkan, menebang satu pohon barangkali hanya membutuhkan waktu 30 menit, namun untuk menumbuhkan kembali pohon-pohon besar yang serupa akan membutuhkan waktu puluhan tahun. Syukur bagi mereka yang mau melakukan melakukan tebang pilih tanam, malah yang banyak ditemui sekarang tebang tidak  pilih-pilih dan tidak mau menanam. Hutan yang gundul akan mengakibatkan air hujan yang jatuh tak dapat diserap oleh tanah karena tidak adanya akar-akar pepohonan yang akan menghisapnya. Sehingga air ini akan teus mengalir mencari tempat-tempat yang rendah. Hal inilah yang mengakibatkan terjadinya banjir. Lalu apa yang akan kita wariskan kepada generasi selanjutnya ? Sudah cukup bangsa ini amburadul dalam bidang pemerintahan, politik dan ekonomi. Salah satu aset yang “ dulu “ bisa dibanggakan adalah keindahan alam dan hawa yang sejuk. Namun sekarang dan beberapa puluh tahun yang akan datang, bisa saja Indonesia akan menjadi wilayah yang ditimpa bencana berkepanjangan hingga akhirnya menjadi sebuah “ kepulauan yang hilang “.
Penyeban banjir lainnya adalah pendangkalan sungai. Hai ini bisa terjadi karena endapan lumpur yang terbawa dari daerah yang lebih tinggi atau karena tumpukan sampah. Misalnya saja di Bandung. Sekitar 20 % dari sampah dan limbah domestik setiap harinya dibuang ke sungai. Angka ini setara dengan 7000 meter kubik.  Pendangkalan sungai ini tentu saja mengakibatkan kemampuan sungai untuk menampung air menjadi berkurang. Sehingga akhirnya air dari badan sungai akan menguap ke daratan.
Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya, bantaran sungai yang seharusnya menjadi area penghijauan, mencegah banjir dan erosi malah menjadi area pemukiman warga. Perubahan bentuk ini semakin diperparah dengan kebiasaan warga yang membuang sampah ke sungai. Sehingga musibah banjirpun tidak dapat dihindari lagi. Penyebab banjir lainnya adalah : perubahan bantaran sungai, hilangnya lahan-lahan terbuka serta tak berfungsinya saluran pembuangan air.
Mau atau tidak kita harus menyadari bahwa penyebab banjir adalah sebagian besar merupakan akibat tangan manusia sendiri. Sehingga manusia juga yang harus menanggulanginya secara bersama-sama. Penanganan banjir tidak dapat dilakukan oleh pemerintah saja tanpa bantuan masyarakat, dan demikian juga sebaliknya. Bukannya malah saling tuding dan menyalahkan, karena sama sekali tidak akan membawa perubahan apa-apa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar