Jumat, 27 Januari 2012

feature



Mencari Tuhan di Museum Tsunami

Salah satu cara untuk bersyukur kepada Allah adalah dengan melihat mereka yang jauh lebih malang.
Oleh: Elvia Mawarni
            Siang itu sesusai berkunjung ke sekolah jurnalis yang berada di Aceh, bus kampus Universitas Negeri Padang pembawa  rombongan Kru dan Reporter Junior Surat Kabar Kampus  (SKK) Ganto mendarat di lapangan parkir museum Tsunami, Aceh. Dilihat dari luar saja, bangunan yang dirancang oleh Ridwan Kamil, Arsitektur  lulusan  ITB ini sudah memikat hati para pengunjung. Dengan mengambil konsep dasar Rumah Aceh, bangunan yang berdiri kokoh ini semakin sarat akan nilai-nilai budaya. Ditambah lagi dengan dinding bagian luar yang tampak seperti rangkaian penari-penari Saman yang dirancang dalam bentuk anyaman. Bukan tidak mungkin jika museum ini dikunjungi oleh ratusan pengunjung tiap harinya.
            Saat pertama memasuki museum ini, pengunjung disuguhkan dengan sebuah lorong gelap dimana di sisi kiri-kanan terdapat dinding setinggi  21 meter yang dialiri air. “Air jatuh yang mengenai tubuh para pengunjung ini diibaratkan dengan gulungan ombak yang menyapu para korban Tsunami “, ungkap salah seorang guide. Tak sedikit pengunjung yang takut karena ruangan ini memang sengaja dirancang untuk mengingatkan kita akan bencana Tsunami. Suara air yang jatuh dari dinding setinggi 21 meter menghasilkan gemuruh-gemuruh menyerupai gulungan ombak. “ Awal dibangun, di Memorial Hall ini dipasang suara-suara menyerupai jeritan para korban Tsunami. Namun karena alasan ketakutan pengunjung, baru-baru ini diganti dengan suara lantunan ayat-ayat suci Al-qur’an “, ungkap nya lagi, Selasa (13/9).
            Dipandu oleh seorang guide, langkah kaki membawa rombongan ke sebuah ruangan yang tak kalah menarik. Ruangan itu menyerupai sumur setinggi 31 meter yang diberi nama Sumur Doa. Sumur ini menyorotkan cahaya ke atas sebagai bentuk hubungan manusia dengan Tuhannnya . Di dinding sumur terdapat nama-nama korban meninggal akibat bencana Tsunami yang diwakili oleh 1000 orang. Ruangan ini tidak hanya menyimpan nilai-nilai sejarah, namun juga menyampaikan pesan-pesan agama. Dibangun dengan konsep Hablumminallah, di puncak sumur terdapat lafadz Allah dan sesuai dengan namanya, disini biasanya para pengunjung memanjatkan do’a kepada Yang Maha Kuasa.
            Tak satupun dari ruangan-ruangan di museum ini yang yang tidak memiliki makna khusus. Tiap sudut ruangan akan membuat pengunjung berdecak kagum. Selain yang disebutkan di atas, juga terdapat ruangan yang diberi nama ruangan Audio Visual. Dimana di ruangan ini pengunjung dapat menyaksikan film dokumenter: pra Tsunami, saat Tsunami, dan pasca Tsunami. Film yang berdurasi 9 menit itu membuat tak sedikit dari pengunjung yang menitikkan air mata. “ Saya tidak dapat lagi menahan rasa haru melihat penderitaan mereka”, ungkap salah seorang pengunjung. Memang keperihan yang diderita rakyat Aceh 7 tahun yang lalu tidak mudah dihapus dari ingatan. Betapa banyak orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya, orang tua kehilangan anak, dan anak-anak menjadi yatim-piatu. Inilah yang menjadi tujuan disediakannya ruangan ini, agar dapat menumbuhkan naluri kemanusiaan kita dan mengakui kebesaran Allah.
            Seperti tidak mengenal lelah, rombongan Kru dan Reporter Junior SKK Ganto yang ditemani rekan-rekan Pers Mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, kembali menelisik ruangan-ruangan lainnya. “ Masya Allah, betapa dahsatnya bencana itu“, ujar salah seorang pengunjung saat manyaksikan bangkai sepeda motor yang tersapu Tsunami yang dipajang dalam sebuah lemari kaca. Pemandangan yang tak kalah menakjubkan lainnya adalah terdapat beberapa miniatur yang menggambarkan keadaan saat terjadi Tsunami. Diantaranya: situasi saat datangnya gelombang Tsunami yang dirancang seperti “ bernyawa”. Lalu Mesjid Baiturrahman yang berdiri kokoh diantara reruntuhan bagunan. Serta yang tak kalah menarik adalah Kapal Apung PLTD seberat 2600 ton yang tersapu Tsunami sejauh 7 Km ke tengah kota.
            Berkelilingdi Museum Tsunami selama lebih kurang 60 menit masih membuat kami penasaran dengan ruangan-ruangan lainnya. Ketika sedang asyik mencoba tingkat kekuatan gempa dan kuat getaran yang ditimbulkannya di ruang peraga, salah seorang rombongan menghimbau untuk segera menuju bus karena masih ada jadwal kunjungan selanjutnya. Meski dalam waktu yang sangat singkat, saya secara pribadi mengaku mendapat banyak pelajaran seusai berkunjung ke musuem ini. Hal yang sama juga ditemui pada rekan-rekan yang lain, dimana tersirat garis-garis kepuasan di wajah mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar