Jumat, 27 Januari 2012

artikel


Randai, Keberadaanmu Kini ...
Randai merupakan salah satu kesenian tradisional Minangkabau yang dimainkan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran, kemudian melangkahkan kaki secara perlahan, sambil menyampaikan cerita dalam bentuk nyanyian secara berganti-gantian. Randai yang menurut sejarahnya pernah dimainkan masyarakat Pariangan, Padang Panjang ini sarat akan nilai-nilai seni dan budaya Minangkabau. Dimana seni lagu, musik, tari, drama dan silat bergabung menjadi satu kesatuan yang apik dalam sebuah kesenian bernama Randai tersebut.
Namun kenyataan yang kita temui sekarang, kesenian Randai sudah tak tampak lagi geliatnya ditengah-tengah masyarakat. Jika zaman dahulu randai bisa dijumpai pada setiap acara pernikahan, Hari raya Idul Fitri atau hari-hari besar lainnya, namun sekarang kekayaan Rang Minang itu sudah hampir mati. Bermunculannya kesenian modern telah menyedot perhatian masyarakat kita dan lebih tragis lagi melupakan seni yang telah mendarah daging di tubuhnya. Hanya sebagian kecil pemuda sekarang yang mengerti soal randai. Dan tidak banyak pula dari mereka yang mau mengepakkan kembali sayap-sayap randai yang hampir patah tersebut. Alasan kebanyakan mereka hanya satu : Malu. Mereka malu memainkan kesenian yang mereka anggap sudah ketinggalan zaman di era serba modern sekarang ini. Jiwa mereka bukan randai, melainkan budaya modern kepunyaan orang lain yang mereka paksakan menjadi bagian hidupnya. Bayangkan, mana yang lebih memalukan ?!!
Memang, inilah penyakit masyarakat kita, tidak bisa menghargai yang sudah ada. Namun jika sudah diambil orang lain, barulah berkobar-kobar untuk mempertahankannya. Wajar saja terjadi hal demikian, toh kita tidak pernah “mengakui” dan menunjukkan kepada publik bahwa kesenian itu kepunyaan kita, tidak salah jika sekiranya orang lain lebih dahulu mempatenkannya.
Randai itu sendiri misalnya. Randai pernah menjadi kurikulum wajib di University of Hawaii selama 2000-2001, kata Budayawan Sumbar, Musra Dahrizal katik Rajo Mangkuto. Musra yang akrab disapa “Mak Katik” itu pernah mengajar kesenian randai di Universitas tersebut selama satu semester. Bisa kita lihat bagaimana betul pandangan dan antusiasme masyrakat di luar sana terhadap kesenian randai. Bahkan Dr Christine Pauka, seorang Doktor dari University of Manoa, Hawaii mengungkapkan pada tesisnya: “Saya kagum pada Randai, sama seperti kekaguman saya pada karya-karya hebat William Shakespeare.” Sebagaimana yang diketahui tentang sosok William Shakespeare, sastrawan sekaligus penulis teater terkenal dari Inggris yang telah menulis ratusan naskah teater yang mendunia seperti Romeo dan Juliet. Ungkapan Dr Christine Pauka merupakan sebuah apresiasi terhadap potensi untuk dipertunjukkannya randai di dunia Internasional.
Lalu bagaimana dengan masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Minangkabau ? Sekarang saatnya kita membuka mata untuk melihat  kekayaan yang dimiliki sebuah kesenian randai. Barangkali kata-kata malu lebih tepat untuk digunakan disini. Saat masyarakat barat lebih mahir memainkan kesenian kita dan menampakkan kebanggaanya di mata dunia. Sedangkan kita sendiri, malah menutup mata darinya. Dan tidak tertutup kemungkinan suatu waktu kesenian Randai akan dipatenkan menjadi kebudayaan mereka. Apa yang bisa kita perbuat ? Menjilat ludah atau membiarkan begitu saja “jiwa” kita dirampas orang lain. Semua harus kita fikirkan sebelum kemungkinan buruk itu terjadi.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar