Jumat, 27 Januari 2012

budaya


Description: D:\Photos More\CIMG5483.JPG Description: D:\Photos More\CIMG5466.JPG
Description: D:\Photos More\CIMG5446.JPGDescription: D:\Photos More\CIMG5447.JPG
Description: D:\Photos More\CIMG5431.JPGDescription: D:\Photos More\CIMG5423.JPG
Description: D:\Photos More\CIMG5443.JPGDescription: D:\Photos More\CIMG5453.JPG

Description: D:\Photos More\CIMG5417.JPGDescription: D:\Photos More\CIMG5418.JPG


Description: D:\Photos More\CIMG5433.JPGDescription: D:\Photos More\CIMG5474.JPG 
Description: D:\Photos More\CIMG5477.JPGDescription: D:\Photos More\CIMG5437.JPG





Museum Sejarah Rumah Adat Baanjuang
Oleh : Elvia Mawarni
Mahasiswa Kimia UNP TM 2009

            Kota Bukittinggi sudah terkenal dimana-mana sebagai Kota Wisata. Banyak tempat-tempat menarik di kota ini yang sayang jika tidak dikunjungi. Sebut saja Jam Gadang yang merupakan Big Ben nya orang Indonesia ini. Lalu panorama ngarai sianok beserta lobang jepang. Serta tak ketinggalan Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) yang di dalamnya terdapat tempat-tempat menarik lainnya seperti Jembatan Limpapeh, Benteng Fort De Kock, akuarium ikan hias, museum zoology, dan tak ketinggalan Museum Rumah Adat Baanjuang.
Museum Rumah Adat Baanjuang dibangun pada tahun 1935 yang terletak di dalam Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan atau lebih dikenal dengan sebutan Kebun Binatang Bukittingi. Rumah gadang bagonjong gajah maharam ini memiliki 9 ruang dan anjungan di sisi kanan dan kiri. Di dinding rumah adat terdapat berbagai ukiran yang mencerminkan ketinggian Budaya Minangkabau. Seperti ukiran Jarek Takambang, Kaluak Paku, Itiak Pulang Patang, dan sebaginya. Dan bagian atapnya terbuat dari ijuk yang dapat menahan derasnya hujan dan terik matahari.
            Hanya dengan membayar 1000 rupiah per-orang, pengunjung akan dapat menyaksikan kekayaan budaya masyarakat Miangkabau yang terpajang di dalam museum ini. Tidak hanya itu, beragam benda-benda peningggalan sejarah pun tidak jarang mebuat pengunjung berdecak kagum, karena terdapat benda-benda kuno yang berasal dari tahun 1700 masehi. Rumah Adat Baanjuang difungsikan sebagai museum untuk memajang benda-benda budaya dan sejarah.  Semua benda-benda yang ada di museum ini murni hasil peninggalan nenek moyang masyarakat Minangkabau. Benda-benda itu ada yang dikumpulkan dari berbagai daerah di Minagkabau dan juga ada pula yang disumbangkan oleh para tetua.
            Benda-benda tersebut antara lain : kuningan, uang logam, uang kertas, miniatur alat transportasi Minagkabau, Roda pedati, alat musik trasional minangkabau, alat pendulang emas, Al-qur’an kuno, foto pendiri rumah gadang, pakaian adat Minagkabau, pelaminan, foto Jam Gadang yang mengalami perubahan pada tiga zaman dan sebagainya.
            Setiap harinya museum ini tidak pernah sepi pengunjung, dari anak-anak sampai orang dewasa. Dari jam 7.30 sampai jam 17.30 pengunjung datang silih berganti dari berbagai daerah, baik di dalam Sumbar, maupun di luar Sumbar seperti Pekanbaru, Jakarta, Medan, bahkan dari Mancanegara.  Orang-orang yang berkunjung ke museum ini pun datang dengan tujuan yang berbeda-beda. Ada yang bertujuan untuk rekreasi bersama kerabat, bahkan ada pula yang berkunjung dalam rangka study tour karena memang museum ini banyak menyimpan pelajaran-pelajaran berharga tentang Sejarah dan Kebudayaan masyarakat Minagkabau.
           

Pandangan:

Saatnya mencintai Budaya Sendiri
         
Lokasi yang stratesis dari Museum Rumah Adat Baanjuang, yakni di dalam Kebun Binatang Bukittinggi diharapkan dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung ke museum ini. Sembari berekreasi dan menghabiskan liburan di Kebun Binatang, secara sengaja atau tidak wisatawan akan tertarik untuk berkunjung ke Rumah Gadang orang Minangkabau ini, yang juga banyak menyimpan benda-benda budaya dan sejarah. Disamping itu, tiket masuk yang relatif murah juga tidak akan menjadi persoalan ketika wisatawan berniat untuk melihat-lihat isi dalam Museum Rumah Adat Baanjuang.
Sebagaimana yang kita temui sekarang ini, bermunculannya kebudayaan dan kesenian modern telah menyedot perhatian masyarakat kita dan lebih tragis lagi melupakan seni yang telah mendarah daging di tubuhnya. Hanya sebagian kecil pemuda sekarang yang mengerti soal kebudayaan dan sejarah bangsanya. Mereka lebih menyenangi kebudayaan luar yang jelas kontras sekali dengan budaya kita. Mereka malu menumbuhkan kembali kebudayaan yang mereka anggap sudah ketinggalan zaman di era serba modern sekarang ini. Jiwa mereka bukan lagi budaya minang, melainkan budaya modern kepunyaan orang lain yang mereka paksakan menjadi bagian hidupnya. Bayangkan, mana yang lebih memalukan ?!!
Disinilah peran sebuah museum muncul. Memang untuk melangkahkan kaki menuju museum lebih terasa berat ketimbang berhura-hura di mall, cafe dan sebagainya. Namun sekarang pemerintah kita sudah mulai menggalakkan sebuah agenda wajib di beberapa sekolah-sekolah, yakni study tour ke museum-museum. Dari sinilah para pelajar yang akan menjadi harapan bangsa dapat mengenal kebudayaan beserta sejarah bangsanya. Berawal dari mengenal lebih dekat dan melihat langsung saksi sejarah inilah mereka diharapkan dapat menumbuhkan kembali denyut-denyut kebudayaan Indonesia yang mulai menghilang, khususnya budaya Minangkabau. Kerena memang, ketika kita mempelajarinya secara lebih dalam, kita akan menyadari kalau ternyata kita memiliki “kekayaan” yang selama ini kita sia-siakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar