Selasa, 20 September 2011

Artikel


Doa dan Mahasiswa
Oleh: Elvia Mawarni

Doa adalah harapan seseorang agar apa yang diinginkannya dalam doa tersebut dapat menjadi kenyataan. Sebuah doa memiliki arti yang yang sangat besar bagi para umat beragama.
Doa dapat menjadi media perantara antara makhluk dengan khaliq nya. Melalui doa seseorang dapat menumpahkan harapannya kepada Yang MahaKuasa dengan segala kerendahan hati. Tak jarang doa itu dapat terkabul, dan terkadang juga doa kita ditangguhkan, bukan karena Ia tidak menyayangi kita, namun mungkin kita harus lebih banyak berusaha lagi. Karena Tuhan telah menyimpan rencana dibalik semua keputusannya.
Doa memang harus selalu diiringi dengan usaha/ikhtiar. Doa tanpa usaha tidak akan menghasilkan apa-apa, begitu juga sebaliknya, usaha keras dan jerih payah juga tidak akan menghasilkan apa-apa jika tidak diiringi dengan doa. Karena Tuhan sangat membenci orang-orang yang sombong, dan orang-orang yang berusaha tanpa doa seolah-olah ia yakin dapat mencapai tujuannya tanpa bantuan dari sisi lain, yakni pertolongan dari Yang MahaKuasa.
Dulu waktu masih duduk dibangku TK, SD, SMP, hingga SMA, setiap akan memulai pelajaran selalu diawali dengan doa, begitu juga ketika akan mengakhiri pelajaran ditutup dengan rasa syukur yang dituangkan dalam sebuah doa. Namun kenyataannya sekarang, para mahasiswa yang merasa lebih hebat dan tinggi tingkat intelektualnya tersebut telah mengesampingkan dan secara tidak langsung menganggap  doa sebelum dan setelah kuliah bukanlah sesuatu yang penting. Memang doa bisa diucapkan didalam hati saja. Namun jika kita data para mahasiswa ini satu-persatu, mungkin diantara 40 orang, hanya 4 atau 5 orang saja yang membaca doa ketika mengawali dan mengakhiri perkuliahan. Sesuatu yang sangat memprihatinkan. Bagaimana mungkin ilmu yang diberikan dapat diterima dengan baik, jika kita tidak memohon kepada pemilik  ilmu tersebut untuk membukakan pikiran dan menyimpannya dengan baik dalam memori jangka panjang. Contoh lain ketika akan belajar, di alam bawah sadar kita telah terprogram bahwa belajar hanya untuk waktu tertentu, atau untuk ujian saja. Setelah ujian selesai, ilmu yang kita pelajari juga turut hilang, dan hanya tersimpan dalam memori jangka pendek.
Disinilah peran doa muncul. Kita dapat merubah kebiasaan buruk tersebut dengan berdoa dan mencoba ikhlas menimba ilmu karena Allah. Sehingga ilmu yang kita pelajari menjadi berkah dan dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Artikel


Kepadatan Penduduk, Pengemis dan Lapangan Pekerjaan

Oleh : Elvia Mawarni

            Berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun
2010, laju pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 1,49 persen per tahun. Kepadatan penduduk ini semakin terlihat di daerah perkotaan, apalagi daerah-daerah padat industri. Hal ini dikarenakan banyaknya penduduk yang berurbanisasi dari desa ke kota dengan harapan akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
                        Tanpa disadari, kepadatan penduduk ini membuka lapangan pekerjaan baru bagi golongan tertentu, yakni para pengemis. Bagaimana tidak, dengan jumlah penduduk Indonesia yang tersebar sebagian besar ke perkotaan, setidaknya dalam waktu relatif singkat terdapat 20 orang yang memberi uang kepada pengemis. Apalagi jika mereka beroperasi seharian. Sekurang-kurangnya Rp.50.000,- dapat mereka hasilkan dalam sehari. Bila dalam satu keluarga, ada dua orang atau lebih yang menjadi pengemis, tentu akan semakin besar uang yang didapatkan.                        Dikarenakan keuntungan yang lumayan inilah tidak sedikit masyarakat yang tergiur dengan pekerjaan ini. Bagi mereka yang malas mencari pekerjaan, mengemis kadang menjadi pilihan. Di samping modalnya yang tak terlalu besar, mengemis tidak pula pekerjaan yang sulit. Seseorang hanya perlu membawa ember kecil atau plastik, memakai pakaian lusuh, memasang wajah menghiba, ia sudah bisa menjadi pengemis. Padahal, Sosiolog Universitas Andalas, Dra. Mira Elfina, M.Si., dalam penelitiannya mengungkapkan hampir 70 persen dari 100 sampel yang diambil, kehidupan para pengemis justru sejahtera, bahkan memiliki rumah dengan segala isinya. Meskipun banyak pula yang – karena keadaan- terpaksa menjadi pengemis.
                        Tiap hari, pengemis bekerja di jalanan, di lampu merah, dan di keramaian lainnya. Hal ini akan berdampak pada nilai estetika suatu tempat. Pengemis –yang identik dengan baju lusuh dan kumuh- bisa merusak pemandangan karena tidak semua orang yang menyukai orang kotor dan meminta-minta. Pengemis juga bisa mengganggu orang lain. Misalnya; pengemis yang tak segan-segan masuk ke ruang perkuliahan atau perkantoran. Di samping masalah kenyamanan, pengemis yang masuk ke dalam ruangan bisa mengganggu konsentrasi orang lain. Bila ditanya, alasan utama mereka menjadi pengemis adalah terbatasnya lapangan pekerjaan. 
                             Jika dikaji masalah keterbatasan lapangan pekerjaan, memang di perkotaan lapangan kerjanya mulai terbatas. Pekerjaan hanya tersedia bagi mereka yang memiliki mutu Sumber Daya Manusia yang tinggi dan bisa bersaing. Bagi yang tidak, kekejaman hidup akan dirasakan di perkotaan ini. Coba kita amati, semiskin-miskinnya penduduk desa, lebih miskin lagi penduduk yang berada di kota. Kebanyakan masyarakat telah salah berasumsi bahwa kehidupan di kota lebih menguntungkan dari pada di desa. Padahal tidak. Jika masyarakat kita mau berusaha, di desa saja banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Mereka bisa memanfaatkan potensi Sumber Daya yang ada. Seperti : berkebun, bertani, berdagang dan lain sebagainya. Kalaupun sedang mengalami kesulitan ekonomi, masih banyak yang bisa membantu, seperti keluarga maupun tetangga. Sedangkan di kota, mau mengadu kepada siapa ? Sementara kita sama-sama mengetahui bahwa gaya hidup di kota lebih bersifat individual.
            Kalau sudah terjadi seperti ini , memang sulit untuk mengatasinya. Disini tidak hanya melibatkan pemerintah saja, tapi juga seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah melalui dinas terkait perlu segera memprogramkan pendataan pengemis di jalanan agar mereka tidak lagi berprilaku malas serta dieksploitasi oleh pihak-pihak yang ingin menarik keuntungan. Dan sebaiknya pemerintah membuka suatu lapangan pekerjaan baru yang bisa memberdayakan para pengemis ini dalam skala besar, disamping mengurangi laju urbanisasi agar terjadi pemerataan penduduk di berbagai wilayah di Indonesia. Dari sisi masyarakat, sebaiknya masyarakat tidak mudah terkecoh dengan tampang hiba dari para pengemis tersebut. Jangan lagi biarkan mereka berperilaku malas dan mendapatkan uang yang seharusnya lebih berhak didapat oleh orang-orang yang kurang mampu dari pada mereka. Jika mau beramal, lebih baik disumbangkan ke mesjid, anak-anak yatim atau yang lebih membutuhkan.

Berita & feature


HMJ KIMIA Buka Bimbel Murah
            Di tengah  banyaknya bermunculan lembaga bimbingan belajar  (bimbel) di Kota Padang yang biayanya relatif tinggi, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Kimia UNP juga membuka bimbel dengan biaya murah. Ini adalah program tahunan HMJ menjelang SNMPTN untuk program IPA dengan biaya sebesar Rp 250.000,-. Biaya ini termasuk biaya pendaftaran. 
 Bimbel ini adalah salah satu wujud dari pengabdian kepada masyarakat. “Kami di sini ingin membantu para siswa  dalam menghadapi SNMPTN tanpa memungut biaya yang besar, bahkan beberapa tahun sebelumnya bimbel gratis,“ tutur ketua pelaksana bimbel, Ade  Khairil, Rabu (11/5).
            Para pengajar bimbel adalah dosen, mahasiswa, dan alumni FMIPA UNP yang berprestasi. Tak terkecuali mahasiswa di luar FMIPA, yakni mahasiswa jurusan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris UNP untuk masing-masing mata pelajaran tersebut. Ruang belajarnya adalah di ruang kuliah FMIPA sendiri.
Selain murah, peserta bimbel, Nidya Pratika, siswa SMAN 1 Solok mengaku, ia sengaja mengambil bimbel agar bisa mengenali kehidupan kampus. Tak hanya itu, kesenjangan sosialnya tidak terlihat karena  rata-rata tidak ada siswa yang berpenampilan mencolok. “Belajarnya pun juga menyenangkan, karena pengajarnya  tidak terlalu kaku, serta diajarkan cara cepat memecahkan soal,“ ujar Suci Islami Putri yang juga peserta bimbel. Via

Berita & feature


Macet lagi, Macet lagi...
            Dari kejauhan terdengar suara bising yang timbul dari berbagai kendaraan bermotor di sepanjang  Jl. Prof. Dr. Hamka, Air Tawar. Tepatnya mulai keluar gerbang kampus UNP hingga simpang Cendrawasih, Air Tawar Barat. Kemacetan arus balik menuju Padang Utara semacam ini akan sering disaksikan saat petang hari menjelang magrib.
            “capek stek da ! “ atau bunyi klakson kendaraan akan sering terdengar di sepanjang Jl. Hamka disetiap petangnya. Setiap orang saling berpacu untuk cepat mencapai tujuan. Semua upaya dilakukan, sekalipun menyalahi aturan.
            Para pengendara sepeda motor  misalnya, tidak bisa menyelinap di jalanan, trotoar pun jadi sasaran. Mereka seolah menjadi raja jalanan.  “Seperti Bapak nya saja yang punya jalanan ini ! “. Begitulah kira-kira ucapan yang terlontar dari mulut para pejalan kaki yang merasa terancam keselamatannya oleh pengendara sepeda motor yang asal menyelinap tersebut. Ada yang mengklakson dari belakang, bahkan ada pula yang menerobos begitu saja. Kebanyakan  korbannya adalah para mahasiswa UNP yang baru menyelesaikan kuliah atau aktivitas kampusnyanya di jam tersebut. Berharap cepat sampai dirumah, melepas kepenatan setelah seharian beraktivitas dikampus, baru keluar gerbang telah disambut oleh hal semacam itu.
            Tidak hanya itu kendala yang dialami. Saat akan menyebrang jalan pun harus menunggu bermenit-menit untuk melayani mau para raja jalanan tersebut . Tak mau mengalah. Itulah kira-kira hal yang sering ditemui. Baru mau melangkahkan kaki ke tengah jalan, dari sebelah kanan segerombolan kendaraan telah duluan menyerobot. Keselamatan penyebrang pun dipertaruhkan disini, rasa cemas akan senantiasa menggerogoti badan hingga mencapai seberang jalan sana. Malahan bagi penyebrang yang kurang berani menerobos diantara kendaraan-kendaraan tersebut, ia akan rela menunggu hingga jalanan menjadi sepi. Inilah pemandangan yang akan sering ditemui menjelang terbenamnya matahari. Entah kapan akan ditemukan solusinya, tak ada yang tahu.
           


Catatan Budaya


Catatan Budaya
TERLAMBAT

Terlambat adalah masalah klasik yang sudah akut dalam tubuh kita. Hal ini berhubungan erat dengan kebiasaan dan cara kita dalam mengelola waktu. Mungkin kita merasa punya waktu yang banyak, tetapi ternyata tidak. Kita tidak sadar bahwa waktu yang kita miliki telah dicuri. Banyak hal yang diakibatkan oleh jam karet ini, kesempatan yang kita miliki jadi hilang karena kita tidak bisa mengatur waktu dengan baik.
Banyak hal yang menyebabkan terjadinya keterlambatan. Diantaranya tidak menggunakan waktu seefektif mungkin dan menambah-nambah pekerjaan baru agar ada alasan untuk terlambat. Banyak waktu terbuang sia-sia disebabkan oleh berbagai aji mumpung, misalnya: mumpung masih lama, mumpung belum banyak yang datang, dan banyak mumpung-mumpung yang lainnya. Bahkan waktu yang sudah teledor tersebut diisi dengan bersantai-santai tanpa memikirkan banyak waktu orang lain yang terbuang sia-sia gara-gara melayani mau si tukang terlambat tersebut.
Tidak hanya di kalangan pelajar dan mahasiswa saja, kebudayaan ini telah menggerogoti seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali para pegawai negeri dan pejabat-pejabat pemerintah. Keterlambatan ini tidak hanya merugikan diri sendiri, melainkan juga orang lain. Banyak waktu yang terbuang percuma gara-gara menunggu mereka yang terlambat. Disamping itu keterlambatan juga akan memecah konsentrasi orang-orang yang telah memulai suatu acara.  Misalnya: terlambat menghadiri rapat, terlambat pergi ke kantor, terlambat pergi kuliah, terlambat menghadiri acara, dan terlambat mengajar. Bagi tenaga pengajar, terlambat saat mengajar sama dengan mengkhianati amanah dan tidak memberikan hak para murid. Padahal sebagai seorang pendidik, mereka harus menjadi panutan bagi murid-muridnya.
Beberapa cara untuk menghadapi si pencuri waktu yang telah membuat keterlambatan itu adalah dengan mengatur jadwal harian secara sistematis dan menetapkan skala prioritas. Kita bisa mengatur waktu dengan cermat untuk melaksanakan tiap-tiap kegiatan. Sehingga pemanfaatan waktu secara efektif dapat tercapai. Disamping itu kita juga harus menanamkan rasa solidaritas yang tinggi terhadap mereka yang menghargai waktu. Jangan gara-gara kesalahan yang kita perbuat, orang lain juga menanggung imbasnya. Dengan mengubah secara perlahan-lahan kebisaan buruk ini agar menjadi lebih baik dapat menjadi suatu kemajuan bagi kita dan bangsa ini di segala bidang. Tidak ada kata sulit selagi kita mau berubah kearah yang lebih baik, tidak ada kata terlambat untuk meraih sukses selagi kita mau memperbaiki diri. Karena salah satu kunci kesuksesan yaitu bisa menghargai waktu. Jangan jadikan jadwal yang padat sebagai salah satu penyebab keterlambatan, justru dengan itu kita lebih bisa membagi dan menghargai waktu. Dan gunakanlah waktu sebaik mungkin jika tidak ingin digilas olehnya.