MELATI UNTUK BUNDA
Malam semakin larut, namun aku masih terjaga dalam kebingungan yang mengganjal di benakku 3 hari belakangan. “Silahkan kamu pertimbangkan baik-baik penawaran paman Ren!” ucap paman Edi beberapa hari yang lalu. Beliau memang telah banyak berjasa terhadap keluarga ku, sosok yang tulus meskipun tak memiliki hubungan darah dengan keluarga kami, hanya sebatas tetangga yang hidupnya juga pas-pasan. Tak dapat ku hitung sumbangsihnya selama ini, terakhir beliau menawarkan untuk pergi ke Jakarta, katanya akan ada pameran lukisan dan beliau meyakinkanku bahwa lukisan-lukisanku dapat diperhitungkan disana. Akh ... lagi-lagi aku tenggelam dalam kebingungan. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan Bunda dan Rey selama 1 minggu, tambah lagi jarak yang cukup jauh. Kalau sakit bunda kambuh lagi gimana??! Hanya ada rey, bocah berumur 6 tahun yang tak tahu apa-apa, paling hanya bisa nangis melihat bunda berjuang melawan penyakitnya. Ya ... penyakit inilah yang menghadirkan kebingungan di otakku. Lagi-lagi perkataan paman Edi membawaku dalam kebimbangan “ jika lukisan-lukisan kamu laku terjual, kamu bisa membawa bunda berobat bahkan mengoperasi tumor ganas yang ada di otaknya” ucap paman edi menyemangatiku.
Ketika aku masih berkutat dengan lamunanku,tiba-tiba sebuah belaian lembut mendarat di rambutku. “ kenapa belum tidur nak? Bunda perhatikan beberapa hari belakangan kamu sering malamun, ayolah berbagi dengan bunda !” suara lembut wanita mulia ini selalu menenangkan hatiku. “ belum ngantuk bunda!” balasku berkilah, aku hanya tak ingin memperlihatkan beban ini kepadanya. “Bunda tau kamu pasti bingung tentang penawaran paman Edi kemaren, kalau kamu belum bisa menentukan pilihan, kamu jangan lupakan Tuhan nak ! kamu bisa menyerahkan semua ketidakberdayaanmu ini kepada-Nya. Kamu bisa meminta pilihan terbaik dengan shalat istikarah, bunda yakin kamu pasti takkan sebimbang ini.!
“Ya Allah ! izinkanlah wanita ini lebih lama lagi menuntunku ke jalan Mu” bisik ku dalam hati.
“iya Bunda! Renata takkan pernah lupa dengan Allah, karena Dia yang telah menakdirkan Rena terlahir dari rahim bunda, dan segala keMAHAan-Nya yang selalu bunda dongengkan menjelang tidur renata”. Wanita paruh baya ini memelukku erat, tak sengaja aku menangakap sebuah bulir bening mengalir di pipinya, aku paling tidak bisa melihat bunda menangis,hati ku perih...
“ sekarang kita tidur ya! “
“iya bun ...’ balasku sambil mencium keningnya.
* * *
Hari ini akhirnya datang juga, setelah membuat keputusan untuk pergi ke Jakarta dan aku tak tahu apakah ini yang terbaik atau tidak. Di luar paman edi telah menunggu dengan setumpuk lukisan yang akan aku pamerkan nanti. “ bun, rena pergi dulu ya ! bunda jangan terlambat makan obat dan rey, kamu jaga Bunda ya sayang ! nanti kakak belikan oleh-oleh”, bujukku pada adik sematawayang ku ini.
“siap bos!” ucapnya berusaha menenangkan hatiku.
“ doa bunda selalu menyertaimu nak!”
Aku merasa begitu kuat setiap mendengar perkataan ini, lalu ku cium tangan bunda, sebelum beranjak menyusul paman Edi yang telah menunggu di halaman. Aku menoleh ke arah bunda dan Rey yang masih berdiri di daun pintu. Entah kenapa tatapan bunda terasa memberatkan langkahku, mungkin karena baru sekali ini aku berpisah dengan bunda dalam waktu yang lama. Ya ! 7 hari terasa begitu lama bagi ku. Tanpa dapat ku tahan, aku berbalik ke belakang menghampiri bunda yang masih mematung di tempat tadi. Aku memeluknya erat sekali, entah kenapa ada ketakutan dalam diriku. “Rena ga jadi pergi bunda” dasah ku di pelukannya.
“anak bunda tidak boleh plin-plan seperti ini ! kamu sudah berniat untuk sesuatu yang baik, kamu harus melakukannya. Ayo ! kasihan paman Edi sudah kelamaan nunggu.”
“ tapi bun...... “
“bunda ga ingin kamu seperti baling-baling di atas bukit ren ! bunda selalu mendoakan yang terbaik untuk mu!”
“maafkan rena bunda ! rena tidak bermaksud membuat bunda kecewa, rena pergi ya bunda ! ucapku berlalu.
* * *
Perjalanan berjam-jam terasa begitu melelahkan, dan sepertinya paman edi bisa menangkap itu dari wajah ku. “ kamu cape’ sekali kelihatannya ren, kita makan dulu, setelah itu istirahat”.
“ rena langsung istirahat saja ya paman! Rena sudah kenyang habis makan sate tadi.”
“ya sudah, dewi, kamu ajak kak rena ke kamar ya ! “
Akupun berjalan membuntuti dewi, kemenakan paman edi, ke kamarnya.
Hari yang ku tunggu-tunggu datang juga. Disini terlihat banyak sekali lukisan-lukisan yang membuat aku semakin canggung dengan kualitas lukisanku. Tak hanya itu, puluhan orang-orang juga terlihat hilir mudik mencari lukisan yang diminatinya. Aku kaget ketika seorang Bapak-bapak,seperinya seorang konglomerat tengah berdiri serius di depan lukisan ku.
“ saya tertarik dengan lukisan-lukisan anda, kalau boleh tahu apakah yang ingin anda sampaikan melalui lukisan ini?” katanya sambil menunjuk salah satu lukisan ku.
“ bunga melati ini melambangkan kesucian sebuah kasih sayang pak ! walaupun sudah jatuh dari batangnya,wanginya tak pernah hilang “ aku berusaha menjelaskan.
“ baik lah, saya beli semua lukisan anda!”
Seperi sebuah petir, kata-kata bapak ini begitu mengagetkan ku, tapi kali ini petir kebahagiaan. “ alhamdulillah Ya Allah ! tak henti-hentinya aku bergumam dalam hati.
* * *
Aku sudah tidak sabar sampai di rumah, dan memberikan kado ini untuk bunda, aku yakin bunda pasti senang. Sepanjang perjalanan tak henti-henti nya ku membayangkan raut kebahagiaan yang terpancar di wajah bunda nanti setelah aku sampai di rumah.
Dari jarak beberapa meter, nampak sebuah pondok sederhana yang di bangun ayah sebelum beliau menghadap ilahi 10 tahun silam. Dengan setengah berlari aku mengejar rumah yang takkan pernah beranjak tersebut. Namun yang terpenting untuk ku temui saat ini adalah bunda dan Rey. Suasana rumah terlihat sepi, aku tak menemukan bunda dan rey. Tiap sudut ruangan telah ku telusuri, di kamar, di dapur, bahkan sampai kebun belakang. Tapi kemana bunda dan rey ? dengan sedikit cemas, aku bertanya kepada Bu Asih, tetangga sebelah.
“ bu, apa ibu melihat bunda dan rey kemana? Aku tak menemukan mereka di rumah.”
“ ayo ibu antar! “ ucapnya mengajakku mengikutinya ke tempat yang ku tak tahu dimana.
‘ lho bu !?? kenapa ibu mengajakku kesini? Emang siapa yang meningal bu? bunda dan rey juga ikut mengantar jenazahnya bu? Apa bunda sudah kelihatan agak sehat bu ?” desakku penasaran.
Bu asih hanya diam,aku semakin tak mengerti di buatnya. “Ada apa ini ??? kenapa aku hanya melihat rey? Bunda kemana? Lalu apa yang di tangisi rey dengan pusara di depannya itu ? memangnya itu kuburan siapa ?!!” bathin ku semakin berkecamuk.
“ kakak ! “ tubuh mungil itu memeluku dengan terisak-isak. “ orang-orang kampung jahat kak , mereka memasukkan bunda ke dalam tanah dan membiarkan bunda sendirian disana kak ! “
Seketika hati ku remuk mendengar pengaduan bocah lugu ini, bagaimana mungkin aku bisa menguatkan dia?!! Toh kekuatan ku sendiri sudah terbaring dengan tenang di bawah tumpukan tanah ini. Aku tersimpuh pasrah beserta kepiluan yang menggantung di sekujur tubuhku. Selamat jalan Bunda ! semoga Allah menempatkanmu di tempat terbaik-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar