Doa dan Mahasiswa
Oleh: Elvia Mawarni
Doa adalah harapan seseorang agar apa yang diinginkannya dalam doa tersebut dapat menjadi kenyataan. Sebuah doa memiliki arti yang yang sangat besar bagi para umat beragama.
Doa dapat menjadi media perantara antara makhluk dengan khaliq nya. Melalui doa seseorang dapat menumpahkan harapannya kepada Yang MahaKuasa dengan segala kerendahan hati. Tak jarang doa itu dapat terkabul, dan terkadang juga doa kita ditangguhkan, bukan karena Ia tidak menyayangi kita, namun mungkin kita harus lebih banyak berusaha lagi. Karena Tuhan telah menyimpan rencana dibalik semua keputusannya.
Doa memang harus selalu diiringi dengan usaha/ikhtiar. Doa tanpa usaha tidak akan menghasilkan apa-apa, begitu juga sebaliknya, usaha keras dan jerih payah juga tidak akan menghasilkan apa-apa jika tidak diiringi dengan doa. Karena Tuhan sangat membenci orang-orang yang sombong, dan orang-orang yang berusaha tanpa doa seolah-olah ia yakin dapat mencapai tujuannya tanpa bantuan dari sisi lain, yakni pertolongan dari Yang MahaKuasa.
Dulu waktu masih duduk dibangku TK, SD, SMP, hingga SMA, setiap akan memulai pelajaran selalu diawali dengan doa, begitu juga ketika akan mengakhiri pelajaran ditutup dengan rasa syukur yang dituangkan dalam sebuah doa. Namun kenyataannya sekarang, para mahasiswa yang merasa lebih hebat dan tinggi tingkat intelektualnya tersebut telah mengesampingkan dan secara tidak langsung menganggap doa sebelum dan setelah kuliah bukanlah sesuatu yang penting. Memang doa bisa diucapkan didalam hati saja. Namun jika kita data para mahasiswa ini satu-persatu, mungkin diantara 40 orang, hanya 4 atau 5 orang saja yang membaca doa ketika mengawali dan mengakhiri perkuliahan. Sesuatu yang sangat memprihatinkan. Bagaimana mungkin ilmu yang diberikan dapat diterima dengan baik, jika kita tidak memohon kepada pemilik ilmu tersebut untuk membukakan pikiran dan menyimpannya dengan baik dalam memori jangka panjang. Contoh lain ketika akan belajar, di alam bawah sadar kita telah terprogram bahwa belajar hanya untuk waktu tertentu, atau untuk ujian saja. Setelah ujian selesai, ilmu yang kita pelajari juga turut hilang, dan hanya tersimpan dalam memori jangka pendek.
Disinilah peran doa muncul. Kita dapat merubah kebiasaan buruk tersebut dengan berdoa dan mencoba ikhlas menimba ilmu karena Allah. Sehingga ilmu yang kita pelajari menjadi berkah dan dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar