Catatan Budaya
TERLAMBAT
Terlambat adalah masalah klasik yang sudah akut dalam tubuh kita. Hal ini berhubungan erat dengan kebiasaan dan cara kita dalam mengelola waktu. Mungkin kita merasa punya waktu yang banyak, tetapi ternyata tidak. Kita tidak sadar bahwa waktu yang kita miliki telah dicuri. Banyak hal yang diakibatkan oleh jam karet ini, kesempatan yang kita miliki jadi hilang karena kita tidak bisa mengatur waktu dengan baik.
Banyak hal yang menyebabkan terjadinya keterlambatan. Diantaranya tidak menggunakan waktu seefektif mungkin dan menambah-nambah pekerjaan baru agar ada alasan untuk terlambat. Banyak waktu terbuang sia-sia disebabkan oleh berbagai aji mumpung, misalnya: mumpung masih lama, mumpung belum banyak yang datang, dan banyak mumpung-mumpung yang lainnya. Bahkan waktu yang sudah teledor tersebut diisi dengan bersantai-santai tanpa memikirkan banyak waktu orang lain yang terbuang sia-sia gara-gara melayani mau si tukang terlambat tersebut.
Tidak hanya di kalangan pelajar dan mahasiswa saja, kebudayaan ini telah menggerogoti seluruh lapisan masyarakat, tak terkecuali para pegawai negeri dan pejabat-pejabat pemerintah. Keterlambatan ini tidak hanya merugikan diri sendiri, melainkan juga orang lain. Banyak waktu yang terbuang percuma gara-gara menunggu mereka yang terlambat. Disamping itu keterlambatan juga akan memecah konsentrasi orang-orang yang telah memulai suatu acara. Misalnya: terlambat menghadiri rapat, terlambat pergi ke kantor, terlambat pergi kuliah, terlambat menghadiri acara, dan terlambat mengajar. Bagi tenaga pengajar, terlambat saat mengajar sama dengan mengkhianati amanah dan tidak memberikan hak para murid. Padahal sebagai seorang pendidik, mereka harus menjadi panutan bagi murid-muridnya.
Beberapa cara untuk menghadapi si pencuri waktu yang telah membuat keterlambatan itu adalah dengan mengatur jadwal harian secara sistematis dan menetapkan skala prioritas. Kita bisa mengatur waktu dengan cermat untuk melaksanakan tiap-tiap kegiatan. Sehingga pemanfaatan waktu secara efektif dapat tercapai. Disamping itu kita juga harus menanamkan rasa solidaritas yang tinggi terhadap mereka yang menghargai waktu. Jangan gara-gara kesalahan yang kita perbuat, orang lain juga menanggung imbasnya. Dengan mengubah secara perlahan-lahan kebisaan buruk ini agar menjadi lebih baik dapat menjadi suatu kemajuan bagi kita dan bangsa ini di segala bidang. Tidak ada kata sulit selagi kita mau berubah kearah yang lebih baik, tidak ada kata terlambat untuk meraih sukses selagi kita mau memperbaiki diri. Karena salah satu kunci kesuksesan yaitu bisa menghargai waktu. Jangan jadikan jadwal yang padat sebagai salah satu penyebab keterlambatan, justru dengan itu kita lebih bisa membagi dan menghargai waktu. Dan gunakanlah waktu sebaik mungkin jika tidak ingin digilas olehnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar