ILALANG di TIRAI HUJAN
Seminggu sudah peristiwa menyakitkan itu terjadi. Dan telah seminggu pula kota ini dilanda hujan berkepanjangan , seakan ikut menangis menyaksikan keperihan hati seorang wanita muda bernama Dira.
Kejadian itu telah merenggut harapan dan semangat hidupnya. Apa yang dicapainya sejauh ini seakan amblas bersama keeping-keping hatinya yang hancur lebur. Dira hanya terus-terusan menyesali nasib yang menimpa dirinya. Seakan dengan berdiam diri di kamar dan berdialog dengan hujan adalah satu-satunya hal yang membuatnya sedikit merasa tenang. Ya ! karena baginya hujan adalah sahabat sejati, saat senang, sedih, hujan selalu datang untuk berbagi cerita dengannya. Bersama hujan ia berlarian penuh tawa, dan bersama hujan pula ia menumpahkan air mata.
* * *
Dira telah memercayakan semuanya pada hujan, hidup sebagai musafir di kota ini, jauh dari orangtua dan keluarga menuntutnya untuk hidup mandiri. Sampai-sampai masalah seberat inipun, ia tak mau membagi dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya.
“Aku ga mau mereka ikut terbebani gara-gara masalah yang aku buat, aku akan selalu berusaha untuk mandiri, sebelum aku benar-benar tak bisa melakukannya sendiri ! “
Kira-kira itulah kata-kata yang selalu ia perdebatkan dengan hujan. Ia selalu memegang teguh motto hidupnya itu . Baginya setiap masalah yang datang sebisa mungkin dihadapi sendiri, kerena itu merupakan ujian untuk dirinya sendiri dan hasilnya akan ia nikmati sendiri.
Sejauh ini ia selalu bersikukuh hidup di atas prinsip yang mungkin bertentangan dengan hahekat manusia sebagai “zoon politicon” tersebut.
Semuanya berawal ketika orangtuanya selalu terlibat konflik, tiada hari tanpa bertengkar dan adu mulut, dan tak pernah mengindahkan pendapatnya sebagai anak tertua. Lalu teman-teman yang ia percaya selama bertahun-tahun ternyata hanya memanfaatkan materi dari nya dan setelah ia tak mampu lagi memberikan semua itu, dengan tiada merasa bersalah mereka beransur-ansur menjauhi nya. Dan yang paling meremukkan hati nya adalah ketika Rony, rekan kerja nya yang ikut berperilaku buas merampas kesucian dirinya.
Tak tanggung-tanggung, tragedi inipun membuatnya terpuruk ke jurang yang sangat dalam. Bahkan Jean, satu-satunya orang yang peduli dan tulus kepada Dira, tak punya kekuatan untuk mengangkatnya dari lobang terkutuk itu. Telah beratus-ratus panggilan tak terjawab dan puluhan pesan singkat dari Jean diabaikan begitu saja.
Peristiwa itu tak hanya telah merenggut kehormatan dirinya, tapi juga akan merampas Jean dari hidupnya. Ia sudah tak pantas masuk ke dalam kehidupan Jean, yang ada hanya akan menodai ketulusan yang terpancar dari diri lelaki itu.
Lagi-lagi Handphone Dira berbunyi, sebuah pesan yang masih berasal dari Jean :
“Aku menderita oleh keegoisanmu ini ! Jangan hanya bercerita kepada hujan. Temui aku jika kau tak ingin aku semakin menderita. “
* * *
Disebuah bangku taman, tempat dimana ia sering bercengkrama dengan Jean, Dira tampak anggun dengan kaos putih berpadu rok berwarna biru tua dengan motif bulatan-bulatan kecil. Yakni pakaian yang ia kenakan waktu pertama kali kenal dengan Jean, dan mungkin dengan pakaian itu pula ia mengakhiri kenangan bersama Jean.
Dira memang sengaja datang 3 jam lebih awal dari waktu yang ia sepakati dengan Jean. Ia ingin memutar kembali detik-detik waktu yang telah ia lalui selama bersama Jean. Pandangannya tampak menerawang jauh ke langit lepas. Tampak bulir-bulir bening berjatuhan di wajah yang terlihat rapuh. Sesekali ia menyeka air mata, dan tertunduk lesu memandang tanah yang ia pijak.
Tanpa ia sadari, di sampingnya telah duduk seorang pria yang sengaja ia tunggu. Dengan perlahan Dira mulai mengangkat kepalanya yang terasa berat. Di pandanginya wajah Jean dalam-dalam, masih terdapat keteduhan yang terpancar dari sorot mata lelaki itu. Dira kembali membenamkan wajahnya jauh ke perut bumi. Lama sekali mereka saling berdialog dalam keheningan . Selang beberapa menit kemudian, baru Dira mulai mengangkat pembicaraan :
“Jean, bolehkah aku bersandar di bahumu ? sebentar saja ! “
Sepertinya Jean telah menangkap kegundahan di hati wanita itu, ia pun membalas dengan sebuah anggukan. Dan Dira kembali menggerakkan lidahnya untuk berbicara.
“ Jean,kamu ga pernah melihat aku menangis kan ? Kamu menganggap aku wanita yang tegar kan ?
Jean,sekarang ilalang yang dahulu kau bangga-banggakan sudah tak mampu lagi menahan terpaan angin, ia dicampakkan oleh amukan badai, dan terlepas dari akarnya. Sebentar lagi ia akan mati Jean ! Ia akan MATI !!!
Dira pun tak bias menahan genangan air matanya. Ia bangkit dari sandarannya di bahu Jean, dan mulai menceritakan peristiwa yang telah membenamkan dirinya itu. Jean hanya terpaku membisu hingga akhirnya Dira mengatakan hal yang beberapa hari belakangan telah berkecamuk di benaknya.
“Aku akan pergi Jean, aku ga ingin menyiksamu dengan bebanku ini, kamu sudah banyak membantu ku, kamu begitu baik kepadaku. Maafkan kebodohan ku ini Jean. Aku ga pernah berniat melukai perasaan mu, sekarang aku sudah tak sanggup membahagiakan diri ku sendiri, apalagi untuk membahagiakan mu Jean. Sekali lagi maafkan aku . Aku akan pergi.”
Dira mulai bangkit dari duduknya dan beranjak meninggalkan Jean, tapi akhirnya Jean mulai membuka mulutnya :
“ Kamu memang bodoh Dira ! Kamu egois ! Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri. Sampai kapan kamu akan menumpahkan semuanya pada hujan !? Kamu tak pernah menyadari kehadiran orang-orang di sekeliling kamu. Mereka peduli kepadamu Dira ! Kamu saja yang tak pernah punya keberanian untuk berbagi dengan mereka.
Kamu ga selamanya kuat Dira ! kamu ga selamanya hebat ! Lihat aku Dira ! aku adalah salah satu orang yang peduli kepadamu, aku sayang kepadamu! Kamu ga berhak membunuh rasa di hati mu untukku. Aku tulus sayang kepadamu. Aku ga peduli dengan apa kata orang-orang tentang kamu, aku lebih tahu bagaimana kamu.
Aku mohon kembali Dira ! Kita hadapi ini sama-sama. ”
Dira hanya tertunduk mendengar ucapan Jean. Tubuhnya lemas,dan ia membiarkan lututnya beradu dengan tanah. Jean pun menghapiri Dira dan merangkul pundaknya.
“Aku butuh kamu, ILALANG di TIRAI HUJAN ! “
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar