Selasa, 20 September 2011

Cerpen


Derai Angin
Ku telusuri  kembali jalanan ini, setelah  sekian lama dengan sengaja ku hilangkan dari ingatan. Masih dengan cemara yang sama, hembusan angin yang sama.  Sesaat  bayangan itu kembali berkelabat di benakku.  Aku tersenyum, tertawa terbahak-bahak, dan aku menangis. Semua masih terasa hangat dan begitu dekat. Lalu ku ingat saat Raka  memberiku pertanyaan yang ku anggap konyol.
  de, kok kamu bisa suka sama aku ? ”
“ ga tau “ jawab ku ketika itu. “ memangnya alasan kamu apa ?“
“ karena kamu cantik, “ balasnya datar.
Lalu ku sambung : ” berarti kalau aku sudah ga cantik, kamu ga suka lagi ? “
“ iya “. Sesaat sebuah gigitan mendarat di tangannya.
* * *
Ah... lelaki itu, ia telah memagut semua mimpi-mimpi ku. Ketika ia datang, aku melihat mimpi itu nyata adanya. Aku merasakan apa yang sebelumnya aku ingin rasakan. Tulus kasihnya begitu indah, meski tidak selau datang dalam wujud yang mudah untuk  dipahami. Ia tersenyum, marah dan diam, namun di sorot mata nya masih ku tangkap sebuah kelembutan cinta. Kini aku baru mengetahui jawabannya dan aku menyesal sudah terlambat menjawab pertanyaan konyol  yang selalu ia tanyakan padaku itu. Terakhir kali ia menemuiku masih dengan pertanyaan yang sama. Saat itu aku terlalu membencinya. Akupun menjawab dengan jawaban yang sama seperti sebelumnya. 
“ Aku tidak tahu, yang aku tahu hanyalah aku menyesal pernah mencintai penghianat sepertimu ! “
Ia mencubit tanganku sampai berdarah dan berlalu. Sifat misteriusnya tak pernah hilang, yang terkadang membuat aku membencinya, namun setelah aku tahu, aku menyesal. Ya, aku benci karena dia selalu membuat ku menyesali kecerobohan ku sendiri. Ia tak pernah mengingatkanku sebelum terjatuh,  ia tak pernah menghapus air mataku. Dia selalu mengatakan : “ kamu sudah dewasa ! “  hanya itu. Aku juga membencinya karena membiarkan aku menghapus sendiri rasa benci itu, tak  pernah ada kejelasan tentang kesalahpahamanku terhadapnya. Ia biarkan aku mencintainya, dan ia biarkan juga aku membencinya.
            Hanya bekas cubitan ini yang membuat aku selalu merasa bersamanya. Hanya ini yang bisa mengobati luka itu. Sejujurnya, aku benar-benar akan “ mati ” setelah melihat kenyataannya nanti. Aku tak lagi menemukan kekuatan itu. Aku rela ia dimiliki wanita lain asal masih di dunia yang sama dengan ku, tapi ...
“ Dea, dulu Raka menitipkan ini untukmu “, ucapan wanita paruh baya ini membuyarkan lamunanku.
Ku buka surat itu, tulisan tangan Raka tersusun rapi dihadapanku:
Dea ku sayang...
Apakah kamu masih membenciku ? Jika iya, aku akan membantumu menghapus rasa itu melalui surat ini. Kamu pasti makin “cantik” ! Akhlakmu, ucapanmu, dan fikiranmu pasti selalu secantik parasmu. Jika aku masih ada disini, kau akan lihat rasa sayang yang menggebu-gebu di dalam telaga mataku. Tak pernah bisa ku hilangkan. Aku tahu apa alasanmu mencintaiku. Kau tak perlu menyesal karena terlambat untuk menjawabnya, sebab aku sudah mengetahui dari dulu. Hanya saja aku ingin kau mengenali ditimu sendiri, dan mencari jawaban untuk kegundahanmu disana.
Kau menyukai ku karena mataku kan ??? Karena setiap melihatnya, aku menemukan ketenangan didalam dirimu dan juga karena hanya disana kau bisa menemukan diriku yang sebenarnya.
Cinta ...
Ini cincin yang kujanjikan dulu. Aku minta maaf karena selalu membiarkanmu melakukan segala sesuatunya sendiri. Dan kali ini aku juga membiarkanmu memasangkan cincin itu ke jari manismu sendiri. Maafkan aku cinta ! Tapi aku punya sapu tangan ini untukmu. Sekarang kamu pasti sedang menangis. Biarkan hasil rajutan tanganku ini menghapus airmata mu. “ Aku selalu disamping mu ! “
                                                                                                            Cinta Raka
            Kini angin yang lembut telah berderai dihadapanku. Gersang sekali. Raka ku terbang ke langit sana. Hanya cinta yang ia tinggalkan, dan membiarkanku menjaganya sendiri. Tapi untuk kali ini, aku berjanji untuk selalu mandiri, karena Raka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar