Masa Orientasi Siswa
Tidak terasa dua tahun telah ku lalui di SMA ini. Susah, senang, penderitaan, dan perjuangan telah terukir manis disini. Saat-saat menjadi siswa baru yang lugu, diospek, dan dikerjai oleh senior akan menjadi buah pembicaraan yang akan kuceritakan kepada anak-anakku kelak. Dan mungkin mereka akan terkekeh-kekeh mendengar ceritaku ketika memproklamasikan sebuah surat pernyataan cinta kepada salah seorang senior pria. Gila memang, tapi aku tidak berdaya untuk melarikan diri dari penganiayaan ini. Bahkan ketika mereka meminta untuk mempersembahkan seranting bunga kertas untuk lelaki yang tak ku kenal itu, aku hanya bisa pasrah menghadapi detik-detik runtuhnya harga diri ku didepan puluhan mata. Walaupun hanya sebuah sandiwara, tapi aku tetap tidak rela diperlakukan seperti ini. Suatu saat akan ku balas ! Semangatku berkobar-kobar kala itu.
Saat-saat yang ku tunggu selama ini akhirnya datang juga. Saat-saat dimana aku akan menjadi senior yang bengis dan kejam sudah terhampar di depan mata. Puluhan wajah tak berdosa telah berdiri mematung dengan busana dan atribut yang memancing tawa. Rompi dari karung bekas, ikat pinggang menggunakan kaleng-kaleng kumuh berisi batu, sehingga menghasilkan nada tak beraturan saat mereka bergerak. Lalu kaus kaki pemain sepakbola dengan warna beda berpadu dengan tali sepatu yang memiliki warna beda pula. Ditambah pernak-pernik berupa rempah dan bumbu dapur yang menggantung indah di leher mereka serta bagian kepala dilindungi oleh topi petani dengan gantungan sampah dibagian pinggirnya dan balon di bagian puncaknya. Benar-benar makhluk yang aneh dan tak akan ditemukan dimanapun. Aku pun bingun mau manamai makhluk ini dengan sebutan apa. “ Orang-orangan sawah penjual rempah dan barang bekas yang bercita-cita menjadi pemain sepakbola ”, atau apa ??! Aku tidak mau menghabiskan hidupku hanya untuk memikirkan hal bodoh itu. Tapi kalau ada yang mau membantu, kira-kira sketsanya seperti ini:
![]() | |||
Dan permainan pun dimulai. Para senior yang lain telah menjalankan kewajibannnya dalam Masa Orientasi Siswa ini. Bahkan ada pula yang menjadikannya sebagai aksi balas dendam, seperti apa yang ada dalam benakku selama ini. Untuk beberapa saat, aku hanya menyaksikan calon-calon penyelamat bangsa tersebut dimangsa oleh senior-seniornya. Ada diantara mereka yang menggerutu, membangkang, ketakutan, bahkan ada juga yang tertawa di atas penderitaannya sendiri. Namun yang menyentakkan bathinku, ketika secara tak sengaja pandanganku menoleh kepada salah seorang siswa baru. Dengan semangat dan penuh keikhlasan ia melaksanakan semua yang diperintahkan para senior. Tak ada sedikitpun raut kekesalan dan keterpaksaan di wajah nya.
Seketika pikiranku berkelana ke masa silam. Ketika aku masih menuntut ilmu di Taman Pendidikan Al-quran (TPA). Disana aku tak hanya belajar mengaji, tapi juga membentuk akhlaq. Masih ku ingat waktu itu ustadz bercerita tentang akhlaq nabi Muhammad SAW. Dan aku sangat mengagumi sosok Habibullah ini dan bercita-cita untuk memiliki akhlaq seperti beliau.
Namun, sekarang aku sadar bahwa aku telah melupakan cita-cita suci itu. Memang ini merupakam hal kecil, tapi hal kecilpun bisa membentuk karakter jika dilakukan terus-menerus, sehingga akan berdampak besar nantinya. Akupun menyadari kesalahan niatku dalam menjalankan amanah ini. Kami diminta untuk mendidik dan memperkenalkan kehidupan sekolah kepada mereka, namun kami malah menggunakan kekuasaan itu sebagai ajang balas dendam.
Akhirnya aku berubah haluan dan memcatat pelajaran berharga ini dalam lembaran hidupku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar