Birokrasi Narsistik
Narsisme atau narsistik merupakan suatu sikap yang selalu ingin menonjolkan kelebihan diri sendiri. Meski sebagian orang menjadikannya sebagai trend di zaman sekarang, namun jelas budaya ini akan membentuk kepribadian yang buruk. Setiap orang selalu ingin dipuji dengan kebaikan-kebaikan yang sengaja ditebarkannya, dan kekurangan yang ada sebisa mungkin ditutupi serapat-rapatnya, sekalipun dengan menghalalkan segala cara. Padahal jika negara ini sudah dibangun dengan pondasi yang buruk, maka kehancuranpun sudah diambang mata.
Budaya narsistik telah merambah keseluruh lapisan masyarakat tak terkecuali birokrasi-birokrasi pemerintah. Coba kita perhatikan para petinggi yang berada di negara ini. Mereka selalu berpidato untuk berusaha memberikan yang terbaik untuk rakyatnya. Segala keputusan yang diambil semata-mata untuk kebaikan rakyat. Namun realitanya ?!! Kebaikan dan kesejahteraan hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki uang dan kekuasaan. Kesejahteraan rakyat dirampas dengan memperbodoh kehidupan mereka. Sekalipun terdapat rakyat yang kritis dan ingin protes, suara mereka tak punya tempat di hati para penguasa, hanya sebatas teriakan meminta keadilan yang kemudian hilang. “ Pemerintah selalu benar “, kira-kira seperti itu semboyan mereka.
Barangkali ruh para moyang kita sudah menagis darah di alam sana. Indonesia yang mereka bangun dengan tulus dan penuh keberanian sekarang menjadi sarang para “ penjahat “ dan para pengecut. Mereka hanya berani berbuat, tapi tidak untuk bertanggungjawab. Pernah melakukan salah tapi enggan untuk mengakui. Kenarsisan disini barangkali telah sederajat dengan kesombongan. Benar saja jika Tuhan sangat membenci kesombongan dan berjanji akan menghancurkan mereka. Karena jika negara ini sudah dikuasai oleh kaum-kaum yang berwatak buruk, persiapkan saja diri kita menghadapi saat-saat dimana Indonesia akan benar-benar terhapus dari daftar nama-nama negara di dunia.
Tidak mudah memang untuk mengubah kepribadian yang sudah mendarah daging. Butuh kerjasama antara rakyat dan pemerintah dalam menangani hal ini. Tentu saja tidak di tempat yang terpisah. Dalam arti kata rakyat dan pemerintah berada dalam satu wadah yang selama ini telah hilang dari hati kita, yakni : “ Persatuan “. Memang terdengar klise, tapi hanya itulah yang membuat kita bisa saling menyayangi dan bahu membahu dalam menghadapi setiap permasalahan di negara ini. Rakyat mempercayai pemerintah dan pemerintah bersikap terbuka terhadap rakyat. Pemerintah sentosa dan rakyat sejahtera. Sehingga tidak akan ditemukan lagi “ unggas yang mati di lumbung beras “.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar