Kepadatan Penduduk, Pengemis dan Lapangan Pekerjaan
Oleh : Elvia Mawarni
Berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, laju pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 1,49 persen per tahun. Kepadatan penduduk ini semakin terlihat di daerah perkotaan, apalagi daerah-daerah padat industri. Hal ini dikarenakan banyaknya penduduk yang berurbanisasi dari desa ke kota dengan harapan akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Tanpa disadari, kepadatan penduduk ini membuka lapangan pekerjaan baru bagi golongan tertentu, yakni para pengemis. Bagaimana tidak, dengan jumlah penduduk Indonesia yang tersebar sebagian besar ke perkotaan, setidaknya dalam waktu relatif singkat terdapat 20 orang yang memberi uang kepada pengemis. Apalagi jika mereka beroperasi seharian. Sekurang-kurangnya Rp.50.000,- dapat mereka hasilkan dalam sehari. Bila dalam satu keluarga, ada dua orang atau lebih yang menjadi pengemis, tentu akan semakin besar uang yang didapatkan. Dikarenakan keuntungan yang lumayan inilah tidak sedikit masyarakat yang tergiur dengan pekerjaan ini. Bagi mereka yang malas mencari pekerjaan, mengemis kadang menjadi pilihan. Di samping modalnya yang tak terlalu besar, mengemis tidak pula pekerjaan yang sulit. Seseorang hanya perlu membawa ember kecil atau plastik, memakai pakaian lusuh, memasang wajah menghiba, ia sudah bisa menjadi pengemis. Padahal, Sosiolog Universitas Andalas, Dra. Mira Elfina, M.Si., dalam penelitiannya mengungkapkan hampir 70 persen dari 100 sampel yang diambil, kehidupan para pengemis justru sejahtera, bahkan memiliki rumah dengan segala isinya. Meskipun banyak pula yang – karena keadaan- terpaksa menjadi pengemis.
Tiap hari, pengemis bekerja di jalanan, di lampu merah, dan di keramaian lainnya. Hal ini akan berdampak pada nilai estetika suatu tempat. Pengemis –yang identik dengan baju lusuh dan kumuh- bisa merusak pemandangan karena tidak semua orang yang menyukai orang kotor dan meminta-minta. Pengemis juga bisa mengganggu orang lain. Misalnya; pengemis yang tak segan-segan masuk ke ruang perkuliahan atau perkantoran. Di samping masalah kenyamanan, pengemis yang masuk ke dalam ruangan bisa mengganggu konsentrasi orang lain. Bila ditanya, alasan utama mereka menjadi pengemis adalah terbatasnya lapangan pekerjaan.
Jika dikaji masalah keterbatasan lapangan pekerjaan, memang di perkotaan lapangan kerjanya mulai terbatas. Pekerjaan hanya tersedia bagi mereka yang memiliki mutu Sumber Daya Manusia yang tinggi dan bisa bersaing. Bagi yang tidak, kekejaman hidup akan dirasakan di perkotaan ini. Coba kita amati, semiskin-miskinnya penduduk desa, lebih miskin lagi penduduk yang berada di kota. Kebanyakan masyarakat telah salah berasumsi bahwa kehidupan di kota lebih menguntungkan dari pada di desa. Padahal tidak. Jika masyarakat kita mau berusaha, di desa saja banyak pekerjaan yang bisa dilakukan. Mereka bisa memanfaatkan potensi Sumber Daya yang ada. Seperti : berkebun, bertani, berdagang dan lain sebagainya. Kalaupun sedang mengalami kesulitan ekonomi, masih banyak yang bisa membantu, seperti keluarga maupun tetangga. Sedangkan di kota, mau mengadu kepada siapa ? Sementara kita sama-sama mengetahui bahwa gaya hidup di kota lebih bersifat individual.
Kalau sudah terjadi seperti ini , memang sulit untuk mengatasinya. Disini tidak hanya melibatkan pemerintah saja, tapi juga seluruh lapisan masyarakat. Pemerintah melalui dinas terkait perlu segera memprogramkan pendataan pengemis di jalanan agar mereka tidak lagi berprilaku malas serta dieksploitasi oleh pihak-pihak yang ingin menarik keuntungan. Dan sebaiknya pemerintah membuka suatu lapangan pekerjaan baru yang bisa memberdayakan para pengemis ini dalam skala besar, disamping mengurangi laju urbanisasi agar terjadi pemerataan penduduk di berbagai wilayah di Indonesia. Dari sisi masyarakat, sebaiknya masyarakat tidak mudah terkecoh dengan tampang hiba dari para pengemis tersebut. Jangan lagi biarkan mereka berperilaku malas dan mendapatkan uang yang seharusnya lebih berhak didapat oleh orang-orang yang kurang mampu dari pada mereka. Jika mau beramal, lebih baik disumbangkan ke mesjid, anak-anak yatim atau yang lebih membutuhkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar