Selasa, 20 September 2011

Resensi buku


“ Sekeping Cinta untuk Ayah ”
Judul : Sebelas Patriot
Penulis : Andrea Hirata
Cetakan Pertama : Juni 2011
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Tebal : xii + 112 halaman
Harga : Rp. 35.000,-

            “ The Power of Love “, barangkali kalimat ini sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tidak ada yang bisa memungkiri bahwa ungkapan itu benar adanya. Setiap orang bisa melakukan apa saja demi sebuah kata bernama: “ cinta “. Kiranya itu jugalah yang dialami sosok Ikal dalam novel ini. Demi kecintaan terhadap sang ayah, segala upaya dilakukan untuk membahagiakan sosok yang begitu dikaguminya itu.
            Semua berawal ketika Ikal menemukan selembar foto di tempat tersembunyi di rumahnya. Di foto itu tampak sesosok pria sedang menggenggam tropi namun tidak dengan raut muka gembira. Berhari-hari ia diselimuti oleh rasa penasaran, siapakah sosok lelaki itu ? Apalagi ketika sang Ibu marah besar saat menemukannya sedang mengamati foto tersebut. Hal ini semakin membuat Ikal berapi-api untuk mengetahui semuanya.
            Hanya gemuruh yang terdengar menggelegar di dada si-aku ketika mengetahui siapa lelaki yang memegang tropi disana. Ia tak dapat berkata-kata saat mendengar cerita pilu tentang kisah hidup lelaki tersebut. Hanya dendam yang membara dirasakannya untuk mengembalikan semua kebahagiaan yang telah dirampas dari sang-Patriot. Ikal yang awalnya tidak menggilai bola, menjadi begitu tergila-gila, bahkan hampir benar-benar gila. Ia berlatih sepakbola secara rutin demi bisa bergabung dengan PSSI, klub yang sangat dikagumi sang-Patriot. Berkat kegigihannya itu, seleksi semi seleksi berhasil dilaluinya. Hanya saja ketika tinggal selangkah lagi untuk menggapai impiannya itu, semua harus berakhir dengan kekecewaan yang mendalam. Tuhan belum mengizinkannya untuk bergabung dengan PSSI. Namun pada saat-saat tersulit itu, kata-kata sang Ayah menggetarkan hatinya : “ Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya “.
            Begitu besar kecintaan yang ditunjukkan Ikal terhadap Patriot-nya dalam novel ini. Tak satu jalan ke Roma. Kira-kira dengan ungkapan itulah ia berkelana ke Benua Eropa untuk bertemu dengan Klub Sepakbola kedua yang digemari Patriot-nya setelah PSSI, yakni Real Madrid, yang kemudian menjadi Klub Favoritnya juga. Bekal hidup sehari-hari yang tidak memadai membuat Ikal harus bekerja keras di negeri orang. Siang hari menjadi tukang cat dan angkat perabot. Sedangkan pada malam hari ia menjadi asisten pembantu dari pembantu pelatih utama (General Assistant, nama kerennya, kacung kenyataannya), yang bertugas mengambil bola dan mengumpulkan kaus para pemain bola. Namun demi bisa mengumpulkan uang untuk membeli kaus Luis Figo dan  melihat Klub Junior Barca berlatih, semua itu masih terasa ringan untuknya. Pada akhirnya, nasib baik pun tak betah menjauh dari Ikal. Ia mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan lebih dari apa yang ia bayangkan.
            Novel ini tak hanya menceritakan tentang kecintaan Ikal terhadap Sang Patriot, namun juga terhadap Tanah Air kita sendiri, Indonesia. Betapapun banyak klub-klub sepakbola yang berkompeten di luar sana, ia tetap menempatkan PSSI pada urutan pertama di hatinya. Kekuatan tekad untuk memperbaiki nasib buruk bangsa kita, dan kebanggaannya bernaung di bawah negara yang padanya para pahlawan kita rela menumpahkan darah, seharusnya dapat menjadi suatu fokus yang harus kita perhitungkan, yang tidak hanya sekedar dibaca. Hal ini semakin terasa pada salah satu dialog yang meneriakkan kata : “ Indonesia ! Indonesia ! Indonesia ! “.  Seperi minyak yang disiramkan pada api, kobaran semangat itu terasa mengalir ke diri pembaca. Karena sama seperti novel-novel sebelumnya, dengan gaya bahasa yang memukau, Andrea Hirata mampu membuat pembaca terbawa suasana seperti dibius oleh tiap kata-kata yang dirangkai sempurna. Bahkan tertawa terbahak-bahak saat membayangkan suasana yang diceritakan. Dan meneteskan air mata seolah ikut merasakan kesedihan yang dialami tokoh. Inilah yang paling menarik dimana dengan kemampuan penulis untuk melibatkan pembaca dalam tiap suasana, dapat menjadi nyawa dari novel ini.  
Resensiator : Elvia Mawarni, Mahasiswa Kimia UNP, TM 2009


Tidak ada komentar:

Posting Komentar